Blogs That Discuss About The World Of Education, Special Education Was Exceptional

Powered by Blogger.
.

MASALAH DALAM PENGELOLAAN KELAS

Posted by romiariyanto Thursday, January 27, 2011


Kegiatan Belajar dan Mengelola Kelas
Kegiatan guru dalam kelas meliputi 2 hal pokok yaitu: mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan Belajar Mengajar secara langsung mengaktifkan siswa untuk mencapai tujuan yaitu:
 Menelaah kebutuhan siswa
 Menyajikan bahan pengajaran pada siswa
 Mengajukan pertanyaan pada siswa

Masalah Pengajaran dan Pengelolaan Kelas
Untuk dapat menangani masalah dalam pemhelolaan kelas secara efektif Guru harus mampu diantaranya:
 Mengetahui secara tepat berbagi masalah pengelolaan kelas, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok
 Memahami pendekatan yang cocok dan yang tidak cocok
 Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat unutk pemecahan masalah.
Masalah pengelolaan kelas diantaranya:
a. Jenis Kelainan anak
b. Latar Belakang anak dan keluarganya
c. Ruang tempat belajar siswa
 Cahaya
 Suhu udara dan udara yang segar
 Akustik
 Garis pandang dan Tata letak meja dan kursi
 Kemungkinan untuk memindahkan meja dan kursi serta furniture lain
 Sarana untuk menempatkan meja dan gambar

Komponen Dalam Pengelolaan Kelas
Faktor dalam komponen Pengelolaan kelas diantaranya:
 Penggunaan Peralatan
 Disiplin yang diterapkan oleh guru
 Keterlibatan semua murid dalam KBM
 Susunan Ruangan Kelas
 Tempat menyimpan baha-bahan dan peralatan pengajaran

Pengelolaan Kelas Yang Efektif
Pengelolaan kelas yang efktif merupakan factor yang mendukung keberhasilan dalam proses belajar mengajar yang diikuti oleh siswa. Jadi, pendidik harus mampu menciptakan suasan kelas yang menyenangkan dan menciptakan keaktifan siswa
Langkah-langkahpengelolaan kelas yang efektif yaitu:
1. Keterampilan guru dalam mengajar
2. Keterampilan guru dalam mengatur tata ruang kelas
3. Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung PBM
4. Adanya keterlibatan antara guru, kepala sekolah dan orang tua dalam meningkatkan belajar siswa
5. adanya keikutsertaan siswa itu sendiri dalam Kegiatan Belajar Mengajar


SUMBER:

Mary Undervood (2000). Pemgelolaan Yang Efektif Suatu Pendekatan Paktis. Jakarta: Arcan

PERILAKU AGRESIF

Posted by romiariyanto


Definisi agresif dan pengukurannya
Applefield (1987) mendefinisikan agresif sebagai tindakan yang di sengaja yang mengakibatkan / mempunyai kemungkinan mengakibatkan penderitaan (fisik/fikiran) pada orang lain/ kerusakan barang-barang. Applefield juga mengemukakan aspek kesengajaan, tindakan yang disenganja untuk menyakiti orang lain meskipun tidak mengenai sasaran di anggap agresif. Sebaliknya tindakan yang tidak di sengaja meskipun akhirnya menyakiti orang lain di kategorikan bukan sebagai agresif. Yang sulit menentukan apakah ada unsure kesengajaan atau tidak.
Bandura (1973) salah satu tokoh social learning theory terbesar bahwa’ agresif adalahperilaku yang berakibat pada penderitaan orang lain dan kerusakan barang atau benda. Penderitaan dapat bersifatpsikis maupun fisik.
Beberapa istilah yang berkaitan dengan perilaku agresif yaitu assentive (tegas). Perilaku agresif sering di artikan sebagai perilaku tegas/kemauan keras. Sehingga teori psikodinamika menganggap asentif sebagai cara mengepresikan dorongan agresif yang wajar dan baik, sedfangkan psikologi behavioristik menganggap perilaku agresif sebagai asentif perilaku yang paling ekstrim jelek dan tidak wajar (Kauffman, 19850 yang kedua adalah agresif pasif yang sering menimbulkan kontroversi, karena seseorang yang berperilaku agresif yang tidak mungkin pasif. Pengertian agresif pasif muncul dari teori psikoanalisa dengan asumsi bahwa setiap orang punya insting dan dorongan bahwa agresif harus di ekpresikan dengan satu atau beberapa cara (Kauffman, 1985). Beberapa karateristik dari anak agresif pasif misalnya keras kepala, suka menunda-nunda, mempersulit, dsb.
Perilaku agresif umumnya di ukur dengan retingdealesv atau observasi rating scale yang bermamfaat dalam mengukur hasil intervensi . tapi dari segi ketelitian dan kemamfaatan, observasi lebih unggul dari rating scale.

Agresif pada orang tua
1. penyebab perilaku agresif
Kauffman (1985) mengidentifikasi empat empat asumsi utama dari penyebab perilaku agresif yaitu.
a. factor biolagis
yaitu perilaku unsure keturunan, kelainan horman dan susunan biokimia wi tubuh, getaran elektrik yang terjadi pada system saraf pusat.
b. factor psikodinamika
yaitu pengedalian ego dan super ego.
c. konsep prustasi – agresif
yaitu prustasi yang di alami.
d. teori belajar sosoal.
Yaitu suatu pengalaman yang tidak menyenangkan yang menimbulkan emosi.

pengendalian perilaku agresif
Kauffman (1985) mengemukakan tiga pendekatan yaitu
a. pendekakatan psikodinamika
ada dua cara yang di lakukan oleh guru/ tenaga profesi lain yaitu
- menerima perilaku dan perasaan anak. Bertujuan untuk membentuk hubungan yang dekat antara guru dengan murid.
- Memberikan kesempatan kepada anak untuk cathascis (pelampiasan. Sehingga merasa puas, terharu). Proses pembersihan dan pengurasan dapat dilakukan dengan cara sublinasi, penggantian/ displacement dan fantasi.
b. pendekatan psikodukasi
Yaitu manusia mempunyai insting, dorongan/keinginan, bawaan/ di turunkan untuk bertindak agresif. Pendekatan psikoedukasi menekankan pada masa kognitf dan afektif anak dan mengatasi dengan membawa anak seihingga memperoleh wawasan tentang masalah yang di hadapinya. Tekanan pendekatan psikoedukasi adalah pada upaya prepentif dengan pembentukan perangkat keterampilan pada anak, dan perangkat ketrampilan yang di sebut kurikulum pengendalian diri, metode, pemecahan masalah, modeling,, pengucapan, penetuan tujuan, dan kriteria keberhasilansendiri, pemantauan diri sendiri, evaluasi diri sendiri dan pemberian imbalan diri sendiri.
c. pendekatan behavioristik
Bahwa perilaku yang termasuk agresif adalah fenomena yang terbentuk melaluai interaksi antara stimulus-respons dengan berbagai kondisi seperti rewardreinforcer, punishment (hukuman). Tekanan dari pendekatan ini adalahpada teknik pengaturan lingkungan. Untuk mendorong dan memberi imbalan atas perlakuan adaptif dan tidak agresif, (bandura, 1973).

Perilaku menyakiti dir sendiri
1. pengerian
Yaitu jenis ketunalarasan yang mungkin di anggap paling aneh, tidak banyak di ketahui dan mungkin paling menakutkan, yang banyak di lakukan oleh penyandang ketunalarasan tingkat berat yaitu psikotik, autistic/ schizopherinik.

2. penyebab perilaku menyakiti diri sendiri
Menurut Kauffman (1985) diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu
a. konsep biologis (kelainan biokimiawi yang di butuhkan oleh fungsi otak normal, perkembangan system saraf pusat yang tidak sempurna, pengalaman pahit dan terisolasi pada masa kecil, masaah saraf.
b. Konsep psikodinamika yaitu perilaku menyakiti disebut juga agresi diri disebut juga agresi diri bersumber dari satu sebab yaitu rasa bersalah.
c. Konsep behavioristik. Bersifat spekulatif, di sebabkan oleh pengumpulan data tentang perilaku ini yang banyak menggunakan observasi informal langsung pada penyandangnya/ dengan eksperimentasi bagaimana perilaku ini dapat di kurangi.

pengendalian perilaku menyakiti diri sendiri
Seperti pengekangan fisik, obat-obantan, pencabutan gigi dan operasi tapi yang sering di pakai adalah penggunaan kontingensi antara penguat dan hukuman, penangan dari SIB (self injuritioan behavior) yang di kembangkan oleh arzim meliputi.
- pemberian penguat positif bagi kegiatan yang di arahkan keluar.
- Relaksasi wajib
- Pengendalian tangan
- Pelatihan pengendalian tangan

Istilah yang lebih popular untuk ketidak matangan (inadequary) atau kekurang dewasaan (immaturity) adalah suatu sikap kekenak-kanakan.
Jenis perilaku ini sangat banyak dari yang berupa perbedaan kecil dengan perkembangan anak seusianya sampai keterlambatan perkembangan yang bersifat kronis atau berat. Ketidak matangan dan kekurang dewasaan dapat menunjukkan pada masalah yang sama yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan seusianya, tetapi dalam hal tertentu ada perbedaan antara keduanya.
Kekurang dewasaan adalah perilaku dibawah norma suatu populasi atau masyarakat luas. Sedangkan ketidak matangan mennjukkan pada perilaku dibandingkan dengan noma yang lebih sempit atau kelompok sosial tertentu. Dengan demikian seorang anak kurang dewasa menurut ukuran anak seusianya, tetapi bagi masyarakat tertentu ini dianggap hal biasa.
Ketidak matangan, kekurang dewasaan adalah jenis perilaku yang berdiri sendiri secara siggel. Konsep immaturity dapat diterapkan pada hampir semua jenis penyimpangan perilaku. Penyebab perilaku ketidak matangan yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari teori belajar sosial (social learning thcory) yaitu bahwa penyimpangan perilaku merupakan kegagalan dalam proses memperoleh perilaku tersebut kecuali mempunyai bukti empiris. Konsep ini juga mempunyai implikasi praktis dalam merencanakan program-program penanganan yang dimaksud.

Beberapa karakteristik yang sering ditunjukkan oleh anak immaturity atau inadequate yaitu:

1. Menangis dan marah.
Menangis (crying) dan marah (tantrum), dapat terjadi pada setiap anak. Anak autistic sering menangis atau marah tanpa sebab yang jelas atau hanya kaena hal yang sederhana, misalnya karena sedikit perubahan pada kegiatan rutinnya atau karena keinginan yang tidak terpenuhi.

2. Keras kepala.
keras kepala (negativism), adalah perilaku menolak ajakan atau permintaan yang baik atau sengaja melawan jenis perilaku yang diharapkan.

3. Takut.
Rasa takut ini ada yang bersifat berat dan ada yang bersifat ringan. Kalau rasa takut yang bersifat ringan dan jangka pendek tidak akan mengganggu perkembangan anak, sedangkan rasa takut yang berat (fobia), adalah rasa takut yang tidak rasional atau diluar proporsi realitas dan situasi yang menyebabkan perilaku menghindar.
Ada beberapa macam rasa takut yang perlu mendapat perhatian para pendidik yaitu:
a. Fobia sekolah.
Beberapa anak mempunyai rasa takut untuk sekolah (school phobia), fobia sekolah berbeda dengan bolos dari sekolah.

b. Membisu efektif (elective mustism).
Seperti disinggung sebelumnya, membisu elektif menunjukkan pada perilaku,”hanya mau berbicara pada orang tertentu”, ada lagi yang mengunakan istilah membisu selektif (selective mutism), ini lebih berorientasi pada lingkungan tertentu atau hanya pada orang tertentu (selektif). Anak mau berbicara, sedangkan istilah membisu elektif lebih berorisntasi pada anaknya, yang secara sengaja memilih lingkungan atau orang.

c. Ganguan makanan
 Anoreksia, yaitu menolak untuk makan karena alasan yang tidak masuk akal, misalnya takut gemuk.
 Bulimia, yaitu hanya mau makan makanan jenis tertentu yang disukainya.
 Pica, yaitu makanan zat yang sebenarnya tidak harus dimakan seperti kapur, puntung rokok, dsb.

d. Depresi pertumbuhan.
Regresi pertumbuhan (developmental regression), adalah pertumbuhan yang justru mundur kearah usia sebelumnya.

4. Gangguan psikofisiologis.
Istilah psikofisiologis menunjukkan bahwa keadaan mental menyebabkan gangguan fisiologis.

5. Obsesi, kompulsif dan ritual.
a. Obsesi adalah keinginan, bayangan atau fikiran yang terus-menerus menggangu.
b. Kompulsif adalah gerakan khas berulang-ulang yang dirasakan anak harus dilakukan.
c. Ritual adalah gerakan tertentu, khas berulang-ulang setelah terjadinya suatu kejadian.

6. Masalah seksual.
7. Depresi.
8. Kegagalan akademik.


Sumber
- Fatmawati & Ganda Sumekar, 2004. Pembinaan Pribadi Dan Sosial Anak Bermasalah Perilaku, PLB, FIP, UNP

- Sunardi, 1996. Ortopedagogik Anak Tunalaras I, Depdikbud. Dirjend Dikti, Jakarta

PERILAKU AGRESIF

Posted by romiariyanto

A. Definisi agresif dan pengukurannya
Applefield (1987) mendefinisikan agresif sebagai tindakan yang di sengaja yang mengakibatkan / mempunyai kemungkinan mengakibatkan penderitaan (fisik/fikiran) pada orang lain/ kerusakan barang-barang. Applefield juga mengemukakan aspek kesengajaan, tindakan yang disenganja untuk menyakiti orang lain meskipun tidak mengenai sasaran di anggap agresif. Sebaliknya tindakan yang tidak di sengaja meskipun akhirnya menyakiti orang lain di kategorikan bukan sebagai agresif. Yang sulit menentukan apakah ada unsure kesengajaan atau tidak.
Bandura (1973) salah satu tokoh social learning theory terbesar bahwa’ agresif adalahperilaku yang berakibat pada penderitaan orang lain dan kerusakan barang atau benda. Penderitaan dapat bersifatpsikis maupun fisik.
Beberapa istilah yang berkaitan dengan perilaku agresif yaitu assentive (tegas). Perilaku agresif sering di artikan sebagai perilaku tegas/kemauan keras. Sehingga teori psikodinamika menganggap asentif sebagai cara mengepresikan dorongan agresif yang wajar dan baik, sedfangkan psikologi behavioristik menganggap perilaku agresif sebagai asentif perilaku yang paling ekstrim jelek dan tidak wajar (Kauffman, 19850 yang kedua adalah agresif pasif yang sering menimbulkan kontroversi, karena seseorang yang berperilaku agresif yang tidak mungkin pasif. Pengertian agresif pasif muncul dari teori psikoanalisa dengan asumsi bahwa setiap orang punya insting dan dorongan bahwa agresif harus di ekpresikan dengan satu atau beberapa cara (Kauffman, 1985). Beberapa karateristik dari anak agresif pasif misalnya keras kepala, suka menunda-nunda, mempersulit, dsb.
Perilaku agresif umumnya di ukur dengan retingdealesv atau observasi rating scale yang bermamfaat dalam mengukur hasil intervensi . tapi dari segi ketelitian dan kemamfaatan, observasi lebih unggul dari rating scale.

B. Agresif pada orang tua
1. penyebab perilaku agresif
Kauffman (1985) mengidentifikasi empat empat asumsi utama dari penyebab perilaku agresif yaitu.
a. factor biolagis
yaitu perilaku unsure keturunan, kelainan horman dan susunan biokimia wi tubuh, getaran elektrik yang terjadi pada system saraf pusat.
b. factor psikodinamika
yaitu pengedalian ego dan super ego.
c. konsep prustasi – agresif
yaitu prustasi yang di alami.
d. teori belajar sosoal.
Yaitu suatu pengalaman yang tidak menyenangkan yang menimbulkan emosi.

2. pengendalian perilaku agresif
Kauffman (1985) mengemukakan tiga pendekatan yaitu
a. pendekakatan psikodinamika
ada dua cara yang di lakukan oleh guru/ tenaga profesi lain yaitu
- menerima perilaku dan perasaan anak. Bertujuan untuk membentuk hubungan yang dekat antara guru dengan murid.
- Memberikan kesempatan kepada anak untuk cathascis (pelampiasan. Sehingga merasa puas, terharu). Proses pembersihan dan pengurasan dapat dilakukan dengan cara sublinasi, penggantian/ displacement dan fantasi.
-
b. pendekatan psikodukasi
Yaitu manusia mempunyai insting, dorongan/keinginan, bawaan/ di turunkan untuk bertindak agresif. Pendekatan psikoedukasi menekankan pada masa kognitf dan afektif anak dan mengatasi dengan membawa anak seihingga memperoleh wawasan tentang masalah yang di hadapinya. Tekanan pendekatan psikoedukasi adalah pada upaya prepentif dengan pembentukan perangkat keterampilan pada anak, dan perangkat ketrampilan yang di sebut kurikulum pengendalian diri, metode, pemecahan masalah, modeling,, pengucapan, penetuan tujuan, dan kriteria keberhasilansendiri, pemantauan diri sendiri, evaluasi diri sendiri dan pemberian imbalan diri sendiri.

c. pendekatan behavioristik
Bahwa perilaku yang termasuk agresif adalah fenomena yang terbentuk melaluai interaksi antara stimulus-respons dengan berbagai kondisi seperti rewardreinforcer, punishment (hukuman). Tekanan dari pendekatan ini adalahpada teknik pengaturan lingkungan. Untuk mendorong dan memberi imbalan atas perlakuan adaptif dan tidak agresif, (bandura, 1973).

C. Perilaku menyakiti dir sendiri
1. pengerian
Yaitu jenis ketunalarasan yang mungkin di anggap paling aneh, tidak banyak di ketahui dan mungkin paling menakutkan, yang banyak di lakukan oleh penyandang ketunalarasan tingkat berat yaitu psikotik, autistic/ schizopherinik.

2. penyebab perilaku menyakiti diri sendiri
Menurut Kauffman (1985) diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu
a. konsep biologis (kelainan biokimiawi yang di butuhkan oleh fungsi otak normal, perkembangan system saraf pusat yang tidak sempurna, pengalaman pahit dan terisolasi pada masa kecil, masaah saraf.
b. Konsep psikodinamika yaitu perilaku menyakiti disebut juga agresi diri disebut juga agresi diri bersumber dari satu sebab yaitu rasa bersalah.
c. Konsep behavioristik. Bersifat spekulatif, di sebabkan oleh pengumpulan data tentang perilaku ini yang banyak menggunakan observasi informal langsung pada penyandangnya/ dengan eksperimentasi bagaimana perilaku ini dapat di kurangi.

3. pengendalian perilaku menyakiti diri sendiri
Seperti pengekangan fisik, obat-obantan, pencabutan gigi dan operasi tapi yang sering di pakai adalah penggunaan kontingensi antara penguat dan hukuman, penangan dari SIB (self injuritioan behavior) yang di kembangkan oleh arzim meliputi.
- pemberian penguat positif bagi kegiatan yang di arahkan keluar.
- Relaksasi wajib
- Pengendalian tangan
- Pelatihan pengendalian tangan

HIPERAKTIFITAS

Posted by romiariyanto

A. Pengertian
Hiperaktif adalah salah satu jenis keluarbiasaan yang paling sering di rujuk oleh orang tua di amerika serikat, di perkirakan 3 sampai 5% dari populasi dari usia sekolah termasuk hiperaktif.(Kauffman, 1985)
Ada enam kriteria penebtu bahwa anak seseorang anak menyandang kelainan yang dimaksud yaitu:
1. distractebilitas : sedikitnya 3 dari gejala berikur.
- sering tidak adapat menyelesaikan pekerjaannya yang dimulainya.
- Sering tampak tidak mendengar.
- Mudah tertarik/terganggu perhatian.
- Sulit memusatkan perhatian pada tugas atau pekerjaan yang memerlukan perhatian besar.
- Tidak adapat bertahan pada satu kegiatan atau permainan.

2. impulsifitas
- sering bertindak tanpa berfikir
- cepat berpindah dari satu kegiatan kegiatan yang lain.
- Sulit mengatur pakerjaan (bukan karena kelainan kognitf).
- Memerlukan banyak pengawasan.
- Sering berteriak dikelas.
- Tidak sabar menunggu dalam kegiatan-kegiatankelompok.

3. hiperaktifitas
- lari berkeliaran memanjat secara berlebihan.
- Sulit untuk duduk diam atau terlalu banyak bergerak.
- Sulit untuk di suruh duduk.
- Terlalu banyak bergerak pada waktu tidur.
- Selau bergerak, seakan-akan digerakan oleh sebuah mesin

4. terjasi sebelum anak berusia tujuh tahun.
5. berlangsung paling sedikit selama enam bulan.
6. bukan karena schizopherenia, gangguan efektif, atau tuna grahita berat.

B. penyebab hiperaktif
Penyebab hiperaktifitas tidak di ketahui secara pasti, mungkin karena banyak factor yang di asumsikan menyebabkan hiperaktifitas (Kauffman, 1985). Semula memang diduga bahwa hiperaktifitas di sebabkan oleh di fungsi otak. Tetapi setelah banyak dilakukan banyak penelitian hubungan hiperaktifitas dengan disfungsi otak ternyata membinyungkan. Banyak anak yang mengalami hiperaktifitas tetapi tidak mengalami disfungsi otak begitu juga sebaliknya, tidak semua penderita disfungsi otak menunjukkan perilaku hiperaktif. Hiperaktifitas di sebabkan oleh beberapa factor yaitu: kekurangan oksigen, kecelakaan fisik, keracunan serbuk timah, dan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak pada umumnya, seperti keurangan gizi dan perawatan, minuman keras, obatan terlarang selama kehamilan, kemiskinan, dan lingkungan keluarga yang tidak sehat (koupernik dalam Kauffman, 1985). Hal ini di perkuat oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hiperaktifitas ditemukan pada berbagai jenis anak, antara lain :
• anak normal berusia 2-3 atahun
• anak berusia lebih tua dengan usia mental 2-3 tahun.
• Anak sangat cerdas yang sangat eksploratif.
• Anak yang di manja oleh orang tua.
• Anak-anak yang cemas atau tertekan.
• Anak-anak yang tercatat dari lingkungannya.
• Anak-anak aristik.
• Anak-anak evilepsi.
Hiperaktifitas diduga juga dapat disebabkan oleh factor biologis, meskipun penelitian masih simpang siur. Salah satunya adalahfaktor keturunan. Factor lainnya seperti zat pengawet. Hiperaktifitas juga dapat di sebabkan oleh factor spikologis. Hamper semua aliran spikologis membicarakan semua ini

A. Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memberikan dasar utama bagi perkembangan anak. Keluarga juga merupakan lembaga pertamadan utama dalam melaksanakan proses sosialisasi pembentukan pribadi anak. Keluarga memberikan pengaruh besar dalam pembentukan watak dan kepribadian anak, baik atau buruknya struktur keluarga memberikan dampak baik atau buruknya perkembangan jiwa dan jasmani anak.

Situasi kehidupan keluarga yang memungkinkan timbulnya perilaku menyimpang (tunalaras) pada anak diantaranya adalah:
1. Disharmonisasi dalam keluarga dan rumah tangga yang berantakan
Kurang harmonisnya dalm rumah tangga merupakan sumber yang subur timbulnya penyimpangan tingkah laku pada anak dan remaja, keadaan ini berakibat:
a. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntutan pendidikan orangtua karena Bapak atau Ibu masing-masing sibuk mengurusi permasalahannya serta konflik batin sendiri.
b. Kebutuhan anak, baik kebutuhan fisik maupun psikis tidak terpenuhi secara wajar.
c. Anak tidak dibiasakan dengan disiplin dan control diri yang baik di rumah yang sesuai dengan norma-norma yangada dalam kehidupan masyarakat maupun norma-norma agama.

2. Pola kriminal orangtua
Kebiasaan, sikap hidup,tradisi dan filsafat hidup orangtua besar sekali pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dalam keluarga, karena itu tingkah laku kriminal orang tua sangat mudah menular pada anak-anak nya.

3. Sikap orangtua
Gangguan tingkah laku pada anak dapat juga dikarenakan sikap orangtua yang menolak kehadiran anaknya di tengah-tengah mereka, sikap menolak ini bisa dikarenakan oleh perkawinan yang tidak bahagia atau kehadiran anak yang tidak diharapkan dalam keluarga. Sikap orangtua yang menolak itu dapat dilihat dari perilakunya dalam kehidupan sehari-hari:
a. Anak kurang diperhatikan dalam makanan, pakayan dan sekolah.
b. Kurang sabar terhadap anak dan cepat marah.
c. Menghukum anak secara berlebihan.
d. Sering diperlakukan berbeda dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.
e. Sering mengeluarkan perkataan dengan nada mengusir anak itu dari lingkungan keluarga.

B. Lingkungan Masyarakat
Pengaurh lingkungan masyarakat disebut juga pengaruh budaya atau kultur. kebudayaan yang menyangkut nilai-nilai, norma hukum dan adat istiadat yang diserap oleh anak dan remaja dalam kehidupannya. Faktor yang sngat merangsang terjadinya penyimpangan tingkah laku pada anak dan remaja adalah media massa, selain itu ada juga pengaruh lain yang tidak kurang pentingnya menjadi perhatian kita adalah berubahnya fungsi Ibu sebagai pendidik utama dan pertama dalam keluarga.
Pengaruh urbanisasi, anak dan remaja datang dari desa untuk mengadu nasibnya ke kota, di kota mereka di tempat-tempat yang kumuh, masyarakatnya miskin, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan fasilitas yang sngat kurang, dapat memberikan tekanan-tekanan tertentu kepada mereka, seperti tekanan batin karena kehidupan yangsusah.

C. Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah suatu lembaga pendidikan yang sangat penting dimana anak di didik untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Kondisi sekolah yang tidak menguntungkan antara lain adalah:
1. Lngkungan fisik yang kurang memenuhi persyaratan.
2. Disiplin dekolah yang kaku dan tidak konsisten.
3. Guru yang itdak simpatik.
4. Masalah kurikulum sekolah.
5. Masalah metode dan teknik mengajar.

Gangguan yang dialami dalam proses perkembangan anak dan remaja sebagai akibat dari perlakuan dan sikap lingkungan yang tidak wajar, sehingga untuk mengatasinya mereka kadang-kadang mencuba melakukan pelarian dan pembelaan diri.

A. Sebelum Lahir (Pranatal)
Ada 2 (dua) factor yang mempengaruhi terhadap terjadinya tunalaras sebelum lahir yaitu:
1. Factor Ibu
Ibu berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada dalam rahim nya. Kegiatan dan keadaan ibu sehari-hari yang berpengaruh terhadap janin nya antara lain:
a. Penyakit.
b. Keadaan gizi ibu.
c. Keadaan emosi ibu.
d. Radiasi.
e. Pemakaian berbagai obat

2. Factor Turunan
Dalam bagian ini yang akan dibahas adalah pengaruh sifat-sifat yang diterima anak dari kromosom kedua orangtua nya terhadap perilaku anak setelah lahir. Para ahli genetika tingkah laku telah melakukan beberapa penelitian untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh turunan pada perilaku seseoarang.
Hasil penelitian melporkan bahwa sangat sulit untuk dapat menentukan secara pasti antara factor turunan dengan perilaku manusia, hal ini disebabkan norma masyarakat yang tidak meungkinkan melakukan perkawinan silang pada manusia, jumlah anak manusia pada setiap generasi umumnya sangat sedikit. Manusia pada umumnya mempunyai cirri-ciri fisik dan kecerdasan tertentu yang berbeda-beda tetepi berkesinambungan. Menurut Davidoff bahwa “cirri-ciri yang berkesinambungan ini tergantung baik pada factor turunan maupun pada factor lingkungan”.

B. Saat Lehir (Natal)
Proses kelahiran seorang bayi banyak mempengaruhi perkembangan anak dan seterusnya. Ada bayi yang lahir normal, tanpa kendala, tetapi ada pula bayi yang harus lahir dengan pertolongan alat-alat tertentu atau ibi yang mesti di operasi untuk melahirkan bayi nya.
Hambatan/ masalah dalam proses kelahiran bayi ini biasanya disebabkan oleh 2 (dua) faktor:
1. Factor Ibu
Pengaruh factor Ibu terhadap masa sebelum bayi dilahirkan (prenatal), yaitu mengenai pengaruh penyakit kronis yang di derita ibu pada saat hamil, keadaan gizi Ibu, emosi Ibu dan pemakaian obat-obatan serta minuman keras yang menyebabkan kerusakan pada bayi yang di kandung nya. Selain dari factor-faktor tersebut, Ibu yang hamil pada usia yang sangat muda biasanya kurang bisa menjaga kesehatan dirinya dan kesehatan kandungannya, sehingga menimbulkan masalah sewaktu melahirkan. Wanita-wanita yang berusia diatas 35 tahun, mempunyai resiko yang tinggi untuk mendapat masalah sewaktu melahirkan.

2. Factor Bayi
Lain lagi masalah yang ditimbulkan oleh bayi itu sendiri, misalnya bayi sunsang, bayi kembar, ataupun bayi yang cacat tubuh nyaseperti bayi dengan kepala yang sangat besar. Kebanyakan kecacatan yang dialami bayi sewaktu ia dilahirkan adalah akibat dari masa kehamilan (prenatal), namun tidak semuanya sebagaiakibat dari masa kehamilan.
Bayi yang lahir sunsang dan harus di operasi dan bayi yang lahir kembar yang harus di operasi dapat menyebabkan bayi terkena akibat dari anestesi, sehinga bayi menjadi lesu, walaupun tidak sampai cacat.

C. Setelah Lahir (Postnatal)
Setelah bayi dilahirkan, ia mulaimemepunyai lingkungan kehidupan yang berbeda dengan lingkungan semasa di dalam kandungan ibu nya. Secara normal ia mulai beritegrasi dengan ibu nya, ayah nya dan saudara-saudaranya yang lain.
Factor setelah lahir (postnatal) yang berpengaruh terhadap perkembangan anak antara lain:
1. Factor Oramgtua
Yang dimaksud faktor orangtua disini terutama adalah Bapak dan Ibu bayi tersebut. Besarnya pengaruh orangtua kepada perkembangan anak, agama Islam telah mengisyaratkan bahwa Bapak dan Ibu lah yang telah memberikan pola tingkah laku dan membangun watak anak nya.
Ada beberapa sebab dini pada usia balita seorang anak menjadi tunalaras berkaitan dengan sikap Bapak dan Ibu nya:
a. Sikap Ibu
Ada sikap inu yang tidak menunjang pekembangan perilaku anak yang baik, sehingga menyebabkan hubungan anak dan Ibu menjadi negatif dan mendorong terjadinya ketunalarasan anak. Sikap Ibu yang dapat menunjang pembentukan tingkah laku yang normal antara lain mencurahkan kasih sayang.

b. Sikap Bapak
Ada balita yang haus dan keringa kasih sayang dan perhatian Bapak. Bapak sering tidak pulang, kalau pulang mabuk-mabuk dan sering marah-marah sejak anak balita, anak telah menyaksikan tingkah laku yang kasar dan akhirnya menjadi contoh bagi anaknya.

2. Factor Saudara-Saudara Kandung
Anak balita yan mempunyai beberapa saudara yang lebih besar atau mempunyai keluarga yang lebih besar, kerap dapat disaksikan maereka sering berebut mainan, cemburu, menyerang, berkelahi dan akhirnya sama-sama menangis. Para orangtua hendaklah bijaksana memberikan penarahan, agar tingkah laku anak sering bermusuhan dapat berubah menjadi saling kasih sayang.



3. Pengaruh Anggota Lain Dalam Keluarga
Selain kesua bapak dan ibu anak tentu akan terpengaruhi oleh tingkah laku semua anggota keluarga yang ada di rumah. Akibatnya anak lebih banyak berintegrasi dengan keluarga yang lain di rumah dibandingkan dengan kedua orangtua, sehingga pola tingkah laku anak banyak ditentukan oleh anggota keluarga di rumah daripada kesua orangtua nya.

4. Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga
Faktor sosial ekonomi keluarga berperan terhadap terjadinya anak tunalaras, masih banyak juga kita jumpai anak tunalaras dari orangtua yang berstatus ekonomi tinggi dan menengah.

Buku sumber:
- nafsiah ibrahim & rohana aldi (1996), etiologi dan terapi anak tunalaras, Jakarta, ppta, ditjen dikti, depdikbut.

KONSEP DASAR GANGGUAN PERILAKU

Posted by romiariyanto

A. Pengertian Gangguan Perilaku
Tunalaras adalah anak yang berperilaku kurang sesuai dengan lingkungan.Menurut UU RI NO. 2 th 1989 tentang sistim pendidikan nasional junto PP. NO. 72 th 1991 tentang pendidikan luar biasa, tunalaras adalah ganguan, hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menysuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Jadi tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan, kelompok, usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan oleh karena itu memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun lingkungan nya.

B. Peristilahan Yang Berhubungan Dengan Gangguan Perilaku
Quid dalam Sunardi (1995), membuat klasifikasi perilaku menyimpang anak tunalaras dalam 4 (empat) dimensi perilaku manyimpang yaitu:
1. Condoct Disorders (Unsosialized Aggression)
Condoct Disorders (Unsosialized Aggression) yaitu ketidak mampuan untuk mengendalikan diri, beberapa perilaku nya adalah:
a. Berkelahi, memukul, menyerang orang lain.
b. Pemarah, tidak patuh, menentang.
c. Merusak milik orang lain, nakal.
d. Menolak arahan, tidak pernah diam.
e. Lekas marah, mencari perhatian, sombong.

2. Socialized Aggression
Socialized Aggression yaitu perilaku agresif yang dilakukan secara berkelompok, beberapa perilakunya adalah:
a. Berteman dengan anak-anak jahat.
b. Mancuri secara berkelompok.
c. Setia dengan teman-teman yang nakal.
d. Menjadi anggota gang.
e. Keluar rumah sampai larut malam.

3. Anxiety Wilthrawal (Personality Problem)
Anxiety Wilthrawal (Personality Problem) yaitu anak yang mengalami maslah kepribadian, beberapa perilakunya adalah:
a. Cemas, takut, tegang.
b. Sangat pemalu, penyendiri, tidak bertenan.
c. Sedih, depresi.
d. Terlalu sensitive, terlalu perasa, mudah malu.

4. Immaturity (Inadequary)
Immaturity (Inadequary) yaitu kelompok perilaku yang menunjukkan sikap kurang dewasa, kurang matang. Rosensberg dan kawan-kawannya menggunakan istilah “Behavioral Disorder” yaitu:
a. Mental illness emotional disturbance.
b. Emotional disorder.
c. Emotional handicap.
d. Social maladjustment.
e. Serious emotional disturbance.

depresi

Posted by romiariyanto

A. Pengertian Depresi
Menurut suryantha Chandra (2002:8) depresi adalah suatu bentuk gangguan suasana hati yang mempengaruhi pribadian seseorang, depresi juga merupakan perasaan sinonim dengan perasaan sedih, murung kesal, tidak bahagia dan menderita. Individu umumnya menggunakan istilah depresi untuk merujuk pada keadaan atau suasana yang melibatkan kesedian, rasa kesal, tidak mempunyai harga diri, dan tidak bertenaga. Individu yang menderita depresi aktivitas fisiknya menurun, berpikir sangat lambat, kepercayaan diri menurun, semangat dan minat hilang, kelelahan yang sangat, insomnia, atau gangguan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan rasa sesak didada, hingga keinginan untuk bunuh diri (john & james, 1990:2).
Salah satu gejala depresi adalah pikiran dan gerakan motorik yang serba lamban (retardarsi psikomotor), fungsi kognitif (aktifitas mental emosional untuk belajar, mengingat merencanakan, mencipta, dan sebagainya) terganggu. Jadi depresi mencakup dua hal kesadaran yaitu menurunnya aktifitas dan perubahan suasana hati. Perubahan perilaku orang yang depresi berbeda-beda dari yang ringan sampai pada kesulitan-kesulitan yang mendalam disertai dengan tangisan, ekspersi kesedihan, tubuh lunglai dan gaya gerakan lambat (A. supratiknya, 19995:67)
Menurut maramis (1998:107), depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan kompronen psikologis seperti rasa sedih, rasa tidak berguna, gagal, kehilangan, putus asa dan penyesalan yang patalogis. Depresi juga disertai dengan komponen somatic seperti anorexia, konstipasi, tekanan darah dan nadi menurun. Dengan kondisi yang demikian, depresi dapat menyebabkan individu tidak mampu lagi berfungsi secara wajar dalam hidupnya.hidupnya.

Depresi pada lanjut usia kemungkinan akan sangat berkaitan dengan proses penuaan yang terjadi pada diri lanjut usia, pada fase tersebut sering terjadi perubahan fisik dan mental yang mengarah kepenurunan fungsi. Proses menjadi tua mendapapkan lanjut usia pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia, Hurlock (1992: 387) mengemukakan beberapa masalah yang umumnya unik pada lanjut usia, yaitu:
 keadaan fisik lemah dan tidak berdaya, sehingga bergantung pada orang lain.
 status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.
 menentukan kondisi fisik yang sesuai dengan perubahan status ekonominya.
 mencarinya teman untuk mengganti pasangan yang meninggal atau cacat.
 mengembangkan kegiatan untuk mengisis waktu luangyang semakin bertambah
 belajar untuk memperlakukan anak-anak yang sudah besar sebagai orang dewasa
 mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa.
 mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk orang usia lanjut.
 mennjadi korban atau dimanfaatkan oleh para penjual obat “buaya darat”dan kriminalitas karena tidak sanggup lagi mempertahankan diri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa depresi pada lanjut usia adalah suatu keadaan dimana individu mengalami gangguan psikologis yang berpengaruh pada terhadap suasana hati, cara berpikir, fungsi tubuh dan lainnya, seperti sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, insomnia, putus asa dan merasa tidak berharga. Jadi keadaan depresi dapat diketahui dari gejala dan tanda yang penting yang mengganggu kewajaran sikap dan tindakan individu atau kesedihan yang mendalam.

B. Bentuk-Bentuk depresi
Dalam psikiatri gangguan depresi dibedakan dalam dua bentuk. Pertama adalah bentuk gangguan depresi yang ditandai dengan episode depresi. Alam bentuk ini depresi muncul dalam gejala-gejala seperti sedih, tidak berdaya murung, muncul perasaan bersalah dan berdosa. Jika depresi semakin berat maka akan timbul akan timbul perasaan putus asa diikuti munculnya keinginan mati dan ide bunuh diri. Kedua gangguan depresi bipolar yang kadang disebut juga dengan gangguan manic depresif, yang ditandai dengan perubahan drastic antara manic dan depresi, the Encarta desk encyclopedia (dalam sulistyorini, 2005)
Maxmen (1986) mengklasifikasikan depresi dalam empat model yaitu:
• Depresi model endogenus dan reaktif. Depresi endogenus adalah depresi yang bersumber karena factor biologis sedangkan depresi reaktif bersumber karena factor-faktor psikologis.
• Depresi model primer dan sekunder. Depresi primer tidak didahului oleh suatu penyakit, sedangkan depresi sekunder didahului oleh penyakit fisik atau penyakit mental.
• Depresi model unipolar dan bipolar. Depresi bipolar mempunyai riwayat episode mania atau hipomania, sedangkan depresi unipolar tidak mempunyai sejarah episode mania atau hipomania
• Depresi model psikotik dan depresi neurotic. Depresi psikotik adalah depresi yang parah sedangkan depresi neurotic adalah depresi yang lebih ringan
Sedangkan martin (dalam hadi 2004), menyebutkan ada tiga jenis depresi,yaitu
 Depresi eksogenus, adalah depresi yang terjadi karena fsktor dari luar, seperti “kehilangan” sesuatu atau seseorang.
 Depresi endogenus, adalah depresi yang terjadi karena factor dari dalam, seperti gangguan hormone, gangguan kimia dalam otak atau susunan saraf.
 Depresi neurotic, adalah depresi yang terjadi apabila depresi reaktif tidak terselesaikan secara baik atau tuntas. Depresi ini merupakan respon terhadap stress dan kecemasan yang telah ditimbun dalam waktu yang lama.
C. Proses Terjadinya Depresi
Dalam kehidupan individu, ada periode-periode kritis yang berpengaruh terhadap perkembangan individu selanjutnya. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari figure yang penting bagi individu pada periode kritis akan mempengaruhi kecenderungan depresi pada masa yang akan datang. Pada saat individu merespon kembali situasi serupa yaitu kurangnya kasih sayang dan perhatian, maka individu mempunyai kecendrungan depresi yang lebih tinggi dibandingkan pada orang yang tidak mengalami keadaan demikian.
Kehidupan manusia ditandai oleh ineraksi individu dengan lingkungan. Depresi dapat timbul karena beberapa factor, baik factor dari dalam maupun dari luar individu. Menurut Abraham (dalam meyer,1989:165), keadaan depresi didominasi oleh perasaan kehilangan, rasa bersalah dan ada perasaan ambivalen antara cinta dan benci. Ambivalensi dari depresi ada dua, yaitu:
o Marah dan benci terhadap objek cinta yang hilang karena persepsi tentang dirinya yang ditinggalkan atau ditolak
o Rasa bersalah karena keyakinannya bahwa dirinya telah gagal merespon secara tepat dan sesuai terhadap objek cinta yang hilang.
Arienti dam bemporad (dalam meyer, 1989:249), menyatakn bahwa depresi sering terjadi pada orang mengalami kehilangan anak-anak. Situasi yang menyenangkan akan hilang jika ada kehadiran anggota keluarga lain seperti adik sehingga perhatian ibu terbagi, karna kematian orang tua, ditinggalkan oleh orang terdekat dengan individu, dan bisa juga disebabkan oleh larangan yang mendadak terhadap terhadap perilaku anak yang sudah menetap.
Jadi depresi terjadi karena hilangnya objek eksternal yang bernilai tinggi bagi individu tersebut. Kehilangan didevinisikan sebagai kehilangn objek cinta utama, yaitu seorang, sesuatu atau aktivitas.
Depresi menrut teori kognitif disebabkan oleh adanya bentu-bentuk pemikiran yang tidak logis. Individu yang depresi cenderung berpikir dengan cara yang menyimpang dan penyimpangan ini menimbulkan masalah baru dan memperburuk keadaan yang ada serta meningkatkan perputaran yang menyebabkan depresi. Hal ini dipertegas oleh ellis (dalam meyer,1984:187) yang mengatakan bahwa cara individu memnadang dan berpikir tentang dirinya sendiri akan meninbulkan ganguan tertentu seperti depresi.
Menurut ferster (dalam meyer, 1984:167) depresi dapat timbul karena salah satu dari dua proses dibawah ini, yaitu:
a. Perubahan lingkungan seperti anggota keluarga atau keilangan pekerjaan dapat membatasi (reinforcement) yang diterima individu. Individu yang menyandarkan diri pada satu atau dua reinforcement kan cenderung mudah terserang depresi karena kurangnya reinforcement.
b. Ditinjau dari perilaku menghindari, depresi muncul pada saat usaha menghindari dilikungan menjadi kuat. Dalam kasus ini depresi timbul karena individu ingin menghindari kecemasan. Jika individu menarik diri dari stimulus yang menyebabkan kecemasan, maka akan kehilangan dengan kontak reinforcement social, dan akan timbul depresi.
Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa depresi terjadi karena individu kehilangan objek eksternal yang bernilai tinggi bagi individu tersebut. Kehilangan yang dimaksud adalah kehilangan objek cinta utama, seperti kehilangan pasangan hidup, anak atau teman. Hal ini menyebabkan individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik, sehingga tidak menutup kemungkinan individu akan mudah mengalami gangguan depresi.
D. Faktor-Faktor Yang menyebabkan Depresi
menurut barren (1980:629)ada beberapa factor yang menimbulkan depresi, yaitu:
• Factor individu
• Factor kejadian-kejadian hidup yang penting bagi individu
• Factor lingkungan yang meliputi factor social , factor buya,dan factor lingkungan fisik.

STRATEGI PEMBELAJARAN ABK

Posted by romiariyanto

A. STRATEGI PEMBELAJARAN ABK
1. Pengertian Strategi Pembelajaran
Secara sempit strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai metode atau teknik penyampaian materi pelajaran kepada siswa agar tujuan belajar dapat dicapai. Dalam arti luas, strategi pembelajaran dapat menyangkut metode, pendekatan, pemilihan sumber dan media, pengelompokan siswa, dan penilaian keberhasilan belajar (Arief S. Sadiman, 1984).
Sedangkan menurut Menurut Romiszowski (1981), strategi pembelajaran merupakan pendekatan umum dan rangkaian tindakan yang akan diambil untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai.

2. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
Menurut A.J Romiszowski (1983), jenis-jenis strategi pembelajaran dapat merupakan suatu kontinum dari yang Discovery bebas sehingga yang Expositive terkontrol. Kontinium Discovery Expositive tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Penemuan tanpa dirancang. Siswa diberi kebebasan untuk menemukan apa yang ia ingin temukan. Jenias ini dapat berupa pemberian kebebasan pada siswa untuk menggunakan perpustakaan atau sumber-sumber belajar yang lain.
b. Penemuan bebas. Tujuan umum belajar ditentukan lebih dahulu tetapi siswa diberi kebebasan untuk memilih sumber belajar yang diinginkan.
c. Penemuan terbimbing. Tujuan pembelajaran ditetapkan sebelumnya oleh guru dan siswa dibimbing untuk menggunakan metode yang relevan untuk mencapai tujuan belajar.
d. Penemuan terprogram adaptif. Bimbingan dan koreksi umpan balik diberikan dan pembelajaran didasarkan atas individualisasi siswa.
e. Penemuan terprogram intrinsic. Bimbingan dan umpan balik telah dirancang untuk siswa yang ingin mempelajari bahan belajar tertentu.
f. Perkuliahan reflektif atau penjelasan induktif. Guru menjelaskan proses penemuan melalui ceramah.
g. Penjelasan deduktif. Guru memberikan ceramah secara deduktif.
h. Latihan Guru mendemonstrasikan kepada siswa tentang apa yang harus dilakukan oleh siswa dan siswa diberi kesempatan untuk melakukan latihan. Siswa tidak perlu memahami konsep yang mendasari materi latihan.
Tidak ada strategi pembelajaran yang efektif dan efesien untuk semua jenias tujuan belajar, bahan belajar, karektiristik siswa. Tiap jenis strategi belajar memiliki keunggulan dan kelemahan. Menurut Romiszowski dalam memilih strategi pembelajaran perlu mempertimbnagkan empat macam, yaitu :
1. Tujuan pembelajaran
2. Karesteristik siswa
3. Sumber dan fasilitas yang tersedia
4. Karesteristik strategi pembelajaran

3. Prinsip Dasar Strategi Pembelajaran
Memilih dtrategi belajar yang tepat bagi ABK harus memperhatikan karakteristik siswa, tujuan belajar, bahan belajar, besarnya ukuran kelompok belajar, dan ketersedian sumber.
Jenis-jenis strategi pembelajaran yang dapat digunakan antara lain:
a. Strategi pembelajaran kooperatif.
Strategi ini efektif digunakan jika kelompok anak memiliki kemampuan yang heterogen.
Keuntungan strategi pembelajaran kooperatiff antara lain:
1. Meningkatkan prestasi belajar.
2. Meningkatkan retensi.
3. Lebih dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi.
4. Mendorong tumbuhnya motivasi belajar.
5. Meningkatkan kemampuan menjalin hubungan antar manusia, dll.

b. Strategi pembelajaran kompetitif.
Guru memilih strtegi pembelajaran kompetitif yakni untuk membangkitkan motivasi belajar.pada hakikatnya manusia memiliki “needs for achivement dan needs for power” yang biasanya dapat dilakukan melalui kompetisi.
Menurut Mulyono (1980), Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kompetitif yaitu :
1. Kompetisi harus antara individu atau antar kelompok yang berkemampuan seimbang.
2. Kompetisi dilakukan hanya untuk selingan yang menyenangkan, bukan kompetisi perjuangan hidup dan mati.

c. Strategi pembelajaran individualistik melalui modifikasi prilaku.
Prinsip strategi pengubahan perilaku, yaitu :
1. Reinforcement
2. Punishment
3. Exitinction
4. Shaping and chaining
5. Promting and fading
6. Discrimination and stimulus control
7. Generalization



B. KOMPONEN, TEKNIK DAN STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Teknik Pembelajaran
Belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Maksud dari kapabilitas disini adalah stimulasi yang bersal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh siswa.
Pembelajaran adalah suatu cara atau kegiatan yang terdiri atas adanya guru, siswa dan materi yang diajarakan dalam proses belajar mengajar yang bertujuan untuk merubah kearah yang lebih baik.
Pembelajaran terdiri dari 4 langkah yaitu :
a. Menantukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri.
b. Memilih mengembangkan aktifitas kelas sengan topik tertentu.
c. Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah.
d. Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi.
Sehingga dengan begitu dapat diketahui bahwa teknik pembelajaran adalah: cara yang diberikan oleh guru dalam proses mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Beberapa teknik yang terdapat dalam proses belajar mengajar antara lain:
a. Teknik tanya jawab
yaitu guru melontarkan teknik tanya jawab agar siswa dapat mengerti atau mengingat-ingat tentang fakta yang dipelajari, didengar, atau dibaca sehingga mereka memiliki pengertuian yang mendalam tentang fakta tersebut.
b. Teknik pemberian tugas
yaitu tugas yang diberikan dalam bentuk daftar sejumlah pertanyaan mengenai mata pelajaran tertentu atau satu perintah yang harus dibahas dengan acra berdiskusi atau perlu dicari uraiannya pada buku pelajaran. Dapat juga berupa tugas tertulis atau tugas lisan yang lain, siswa dapat juga ditugaskan mengumpulkan sesuatu, membuat sesuatu, mengadakan observasi terhadap sesuatu dan bias juga melakukan eksperimen. .
c. Teknik ceramah
yaitu merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.
d. Teknik penyajian secara kasus.
yaitu berupa penyajian pelajaran dengan memanfaatkan kasus yang ditemui anak diginakan sebagai bahan pelajaran kemudian kasus tersebut dibahas untuk mendapatkan penyelesaian atau jalan keluar
e. Teknik penyajian secara kelompok
kelompok dibentuk oleh guru untuk memecahkan suatu masalah di dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa agar lebih lancer terjadinya inetraksi mengajar dan belajar.
f. Teknik penyajian interaksi masa
yaitu berupa variasi teknik penyajian yang diberikan guru dalam proses pembelajaran seperti panel, symposium, seminar, musyawarah kerja forum dan lain-lain.

2. Penguatan
Penguatan adalah sesuatu yang diberikan dalam proses belajar mengajar dimana menunjuk pada suatu peningkatan frekuensi respon, jika respon tersebut diikuti dengan konsekuensi tertentu.
Penguatan dalam proses belajar mengajar terbadi dua yaitu:
1. Penguatan positif
yaitu peristiwa yang muncul setelah suatu respon diperlihatkan dan meningkatkan frekuensi perilaku atau respon yang diharapkan. Dalam kehidupan sehari-hari penguatan positif sering dinamai dengan hadiah.
2. Penguatan negatif
yaitu peristiwa hilangnya sesuatu yang tidak menyenangkan setelah suatu respon yang diharaokan ditampilkan. Suatu peristiwa dapat disebut sebagai penguatan negatif jika penyingkirannya mempunyai respon yang dikehendaki meningkatkan frekuensi penampilan respon.

3. Follow-Up
Follow-up yaitu suatu penerapan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru terhadap siswa untuk mengukur sejauh mana siswa memahami teori pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Dengan adanya follow-up ini guru dapat melihat dan mengetahui secara langsung tingkat pemahaman siswa terhadap prakteknya yang dilakukan apakah sesuaui dengan teori yang telah diterimanya.

C. MOTIVASI BELAJAR ABK
1. Pengertian Motivasi
Menurut beberapa ahli mtivasi adalah:
1. Mc. Donald, motivasi adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan.

2. Jhon P. Compbell, motivasi di dalam motivasi mencakup arah/tujuan tingkah laku, kekuatan respons dan kegigihan tingkah laku, dorongan, kebutuhan, rangsangan, ganjaran, penguatan, ketetapan, tujuan dan harapan.
3. Moh. Uzer Usman (1992 : 24), motivasi adalah suatu keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah laku untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah: keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah laku individu untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan prilaku manusia, termasuk prilaku belajar.

2. Jenis-Jenis Motivasi
a. Motivasi primer
Menunjukan kepada motivasi yang tidak dipelajari. Misalnya dorongan fisiologi seperti lapar, haus, dll, dorongan umum termasuk dorongan takut kasih sayang, ingin tahu,dsb.
b. Motivasi sekunder
Motivasi sekunder yaitu motivasi yang dipelajari sebagai ilustrasi, orang yang lapar akan tertarik pada makanan tanpa belajar. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja.

3. Pengaruh Motivasi Terhadap Prestasi Belajar
Pengaruh motivasi dalam proses belajar mrngajar antara lain:
a. Meningkatkan hasil prestasi belajar siswa
b. Mengubah keinginan menjadi kemauan-kemauan dan kemudian kemauan menjadi cita-cita
c. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal dengan perwujudan emansipasi kemandirian tersebut dalam cita-cita atau aspirasi siswa
d. Dapat meningkatkan dan mengembangkan minat dan bakat pada siswa
e. Untuk mengubah tingkah laku siswa kearah yang lebih baik.

4. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
Upaya meningkatkan motivasi belajar diantaranya yaitu:
a. Membuat tujuan sementara
Untuk mencapai tujuan yang dilakukan beberapa usaha, usaha untuk mencapai tujuan sementara.

b. Persaingan
Adanya kompetisi antara diri sendiri dengan orang lain dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan suatu tindakan.
c. Tujuan yang jelas.
Motivasi mendorong individu mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan.
d. Minat yang besar.
Motivasi akan timbul jika individu mempunyai minat yang besar.
e. Kesempatan untuk sukses.
Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan, dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaiknya. Dengan demikian maka untuk membangkitkan motivasi seseorangberilah kesempatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

D. MEDIA PEMBELAJARAN ABK
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau penganatr pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Dengan demikian media dapat dikatakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemapuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa.
Penggunaan media secara kreatif akan memperbesar kemungkinan siswa untuk belajar lebih banyak.

2. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Sri Anitah Wiryawan dan Noorhadi Th (1994) mengklasifikasikan media pembekajaran atas 3 kelompok yaitu:
a. Media audio
Media audio merupakan jenis media yang didengar. Media ini memiliki karekteristik pemanipulasian pesan hanya dilakukan melalui bunyi atau suara-suara. Sebagai contoh cassette tape recorder, merpakan alat yang dapat digunakan untuk merekan dan memutar kembali hasil rekaman dengan menggunakan alat perekam pita magnetic
b. Media visual
Media visual, yaitu yang dapat ditangkap dengan incra penglihatan. Contoh dari nedia visual antara lain:
• Diagram
• Poster
• Papan tulis
c. Media audio visual
Media ini tidak hanya dapat dipandang atau diamati tetapi juga dapat didengar. Jenis media ini , antara lain:
• Televisi
• Computer
d. Media asli dan orang
Media ini merupakan benda yang sebenarnya,media yang membantu pengalaman nyata peserta didik. Contoh gambar model.

3. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran
Media pembelajaran berfungsi sebagai :
a. Alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
a. Bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar
b. Meletakkan dasar-dasar yang kongkrit dan konsep yang abstrak sehingga dap mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme
c. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
d. Mempertinggi mutu belajar mengajar.

Peranan atau kegunaan media pembelajaran.
a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis.
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, mis alnya obyek yang kecil , dapat dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, dll.
c. Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.

4. Kriteria Media Pengajaran
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan suatu media yaitu:
a. Media harus disesuaikan berdasarkan pada tujuan dan bahan pengajaran yang akan disampaikan
b. Media harus disesuiakan dengan tingkat perkembnagan siswa
c. Media harus disesuaikan dengan kemampuan guru
d. Media harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang tepat.

E. METODELOGI PEMBELAJARAN
1. Pengertian Metodelogi Pembelajaran
Metodelogi pembelajaran atau metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
Oleh karena itu metodelogi pembelajaran ini berperan sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Dengan metode diharapkan timbulnya berbagai kegiatan belajar dari siswa sehubungan dengan kegiatan pembelajaran di kelas.

2. Jenis-Jenis Metodelogi Pembelajaran Beserta Keunggulan dan Kelemahan
• Metode ceramah
Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama diterapkan oleh guru-guru di dalam mengajar. Ceramah adalah penuturan bahan pengajaran secara lisan
Keunggulan:
1. Telah dikenal dan diterima secara konvensional dan mudh penggunaannya.
2. Memerlukan upaya dan pemikiran minimal untuk merencanakan penyajian karena pengajar sudah mengenal dan berpengalaman
3. Dapat menambah wibawa didepan siswa
4. Dapat menghemat waktu dan lebih banyak memberikan informasi
5. Dapat melayani siswa dengan jalan yang banyak
Kelemahan:
1. Membatasi keterlibatan siswa, sehingga belajar bersifat monoton
2. Merhatian siswa hanya tertuju pada penyaji saja
3. Memaksa siswa untuk memahami pelajaran sesuai dengan kecepatan guru mengajar
4. Pengajaran akan terhenti bila siswa bertanya dan konsentrasi mudah buyar
5. Hanya dapat diingat dalam waktu pendek

• Metode tanya jawab
Metode tanya jawab merupakan metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat dua arah, sebab pada saat yang sama terjadi dialog dua arah antar guru dan siswa.
Keunggulan:
1. Aspirasi siswa dapat tersalurkan
2. Permasalahan (ketidakmampuan) siswa terhadap sesuatu hal yang sedang dipelajarinya dapat dicarikan solusinya.
3. Dapat memciptakan hubungan yang baik antara guru dan siswa
4. Mengurangi/menghilangkan pandangan negative siswa terhadap guru sebagai sosok yang ditakuti
Kelemahan:
1. Menimbulkan suatu kecemasan (beban) bagi siswa yang kebetulan tidak siap ketika ditanya guru
2. Siswa yang menjawab pertanyaan cenderung yang pintar

• Metode demonstrasi
Metode demonstrasi yaitu memperlihatkan bagaimana terjadinya proses sesuatu, dimana keaktifan biasanya lebih banyak dari pada guru.
Keunggulan:
1. Menumbuhkan sikap kritis pada siswa sehingga terdapat tanya jawab dan diskusi tentang masalah yang didemonstrasikan.
2. Membantu siswa memperoleh jawaban yang lebih akurat dengan mengamati suatu proses dari sesuatu
Kelemahan:
1. Hanya satu dua siswa saja yang mendapat pengalaman mencobakan sedangkan yang lain hanya mengamati.
2. Keaktifan lebih banyak dari pihak guru

• Metode eksperimen
Metode eksperimen merupakan metode yang langsung melibatkan siswa melakukan percobaan untuk mencari jawaban terhadap permasalahan.
Keunggulan:
1. Memberikan kesempatan untuk semua siswa baik yang lambat maupun yang cepat.
2. Meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab.
3. Perhatian siswa banyak tercurah pada pelajaran yang dibahas.
4. Guru dapat memantau kemampuan siswa baik kelompok maupun perorangan.
5. Dapat menggunakan beraaneka sumber belajar.
Kelemahan:
1. Menuntut persiapan bahan-bahan eksperimen yang lengkap
2. Bagi siswa yang kurang kreatif, eksperimen dijadikan main-mainan saja
3. Mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan alat

• Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas yaitu memberikan kesempatan kepada siswa melakukan tugas/kegiatan yang berkaiatan dengan pelajaran yang dipelajarinya.
Keunggulan:
1. Guru dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, sehingga perlu melakukan perbaikan
2. Apabila tugas diberikan berkelompok, dapat menumbuhkan hubungan baik dan keakraban antara sesame siswa
Kelemahan:
1. Tugas yang diberikan secara berkelompok, yang mengerjakannya paling hanya satu atau dua orang siswa saja.
2. Tugas yang dibuat siswa terkadang dari hasil menjiplak/ mencontoh

• Metode diskusi
Metode diskusi yaitu bertukar informasi, pendapat, dan unsur- unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan cermat tentang masalah atau topik yang sedang dibahas.
Keunggulan:
1. Menuntut tingkat pemahaman yang lebih tinggi seperti masalah serta pengambilan keputusan
2. Menjalin interaksi anatar siswa dan terlatih menjadi pemimpin
3. Unggul dalam menggunakan kelompok kecil dan meningkatkan pembentukan sikap
Kelemahan:
1. Menuntut guru untuk memperhatikan jalannya diskusi karena bias menjadi debat kusir yang saling menjatuhkan.
2. Siswa belum tentu aktif atau terlibat secara keseluruhan
3. Apabila suatu konsep tidak dikuasai, maka diskusi akan cenderung mengembang dari pokok permasalahan yang sesungguhnya

• Metode karya wisata
Metode karya wisata Melalui metode ini siswa diajak mengunjungi tempat- tempat tertentu di luar sekolah, kemudian ssiswa disuruh untuk diberi tugas membuat laporan.
Keunggulan:
1. Memberikan pengalaman baru bagi siswa apabila karyawisata yang dilakukan ketempat-tempat yang belum pernah dikunjungi
2. Menumbuhkan kebersamaan dan kerjasama antar siswa
3. Memberikan penyegaran baru bagi siswa yang sudah jenuh belajar di kelas
Kelemahan:
1. Kebanyakan karyawisata yang dilakukan tujuannya bukan untuk belajar, akan tetapi ada tujuan-tujuan lain yang membuat metode ini kurang efektif
2. Memakan biaya yang cukup besar apabila dilakukan ketempat yang jauh.
3. Menuntut persiapan yang lebih matang

• Metode sosio drama
Metode sosio drama bermain peran merupakan metode yang sering digunakan dalam mengajar nilai- nilai dan memecahkan masalah – masalah yang dihadapi dalam hubungan sosial dengan orang- orang dilingkungan sekitar.
Keunggulan;
1. Menumbuhkan dan mengembangkan bakat siswa
2. Menumbuhkan sikap kritis siswa
3. Meningkatkan rasa percaya diri dalam diri siswa untuk tampil didepan umum.
Kelemahan:
1. Membutuhkan waktu dan persiapan yang cukup
2. Menuntut siswa memiliki penghayatan peran yang tinggi

3. Penggunaan Metodelogi Pembelajaran
Dalam prakteknya metode pembelajaran tidak digunakan sendiri- sendiri tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Kombinasi metode mengajar antara 2-3 metode mengajar merupakan suatu keharusan dalam proses belajar mengajar.

4. Memilih Metodelogi Pembelajaran
Dalam memilih metode pengajaran yang harus diperhatikan oleh seorang guru yaitu :
a. Tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajar- mengajar.
b. Isi dari proses belajar mengajar.
c. Kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar.
d. Jumlah siswa dalam proses belajar mengajar.
e. Tempat pembelajaran dilakukan (di dalam kelas atau di luar kelas ).



F. TUJUAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Pengertian Perencanaan Pengajaran
Perencanaan pengajaran adalah suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan pendidikan nasional dengan mempertimbangkan kenyataan- kenyataan yang ada di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan kebutuhan pembangunan secara menyeluruh terhadap pendidikan nasional.
Menurut pendapat ahli yaitu Kauffman mengatakan perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai, mencakup elemen- elemen :
a. Mengidentifikasi dan mendokumentasi kebutuhan.
b. Menentukan kebutuhan- kebutuhan yang diprioritaskan.
c. Spesifikasi rinci hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang diprioritaskan.
d. Identifikasi persyaratan untuk mencapai tiap- tiap pilihan.

2. Hubungan Perencanaan Pengajaran Dengan Mata Kuliah Lain
Mata kuliah perencanaan perencanaan pengajaran termasuk kelompok mata kuliah proses belajar mengajar (MKPBM).Kelompok mata kuliah ini didasari oleh kelompok mata kuliah dasar kependidikan (MKDK), dan erat hubungannya dengan kelompok mata kuliah bidang studi (MKBS).
Perencanaan atau penyusunan program atau persiapan mengajar sesuatu bidang studi atau mata pelajaran serta pelaksanaan mengajarnya didasari oleh mata kuliah ini. Perncanaan pengajaran memberikan konsep- konsep dasar serta ketentuan- ketentuan praktis tentang cara menyusun rencana atau persiapan mengajar serta melaksanakan pengajaran suatu bidang studi atau mata pelajaran.
Mata kuliah ini juga dapat dikategorikan sebagai mata kuliah aplikasi, sebab di dalamnya berisi penerapan atau aplikasi konsep- konsep, teori- teori, dan prinsip- prinsip yang dibahas dalam kelompok mata kuliah dasar kependidikan dalam menyusun rencana pengajaran. Mata kuliah dasar- dasar kependidikan, psikologi pendidikan, serta bimbingan dan konselng merupakan prasyarat bagi mata kuliah perencanaan pengajaran disamping itu, mata kuliah psikologi perkembangan juga sangat penting artinya dan ikut mendsari mata kuliah perencanaan pengajaran.

3. Prinsip Perencanaan Pengajaran
 Prinsip- perkembangan.
Sehubungan dengan perkembangan anak, maka kemampuan anak pada setiap jenjang usia dan tingkat kelas berbeda- beda. Pada waktu memilih bahan dan metode mengajar, guru hendaknya memperhatikan dan menyesuaikannya dengan kemampuan anak tersebut.
 Prinsip perbedaan individu.
Setiap siswa memiliki ciri tersendiri. Guru perlu mengerti benar tentang adanya keragaman ciri- ciri siswa ini, baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas- tugas dan pembimbingan , guru hendaknya menyesuaikananya dengan perbedaan- perbedaan tersebut.
 Minat dan kebutuhan anak.
Setiap anak mempunyai minat dan kebutuhan sendiri- sendiri, walaupun hampir tidak mungkin menyesuaikan pengajaran dengan minat dan kebutuhan setiap siswa, sedapat mungkin perbedaan minat dan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi. Pengajaran perlu memperhatikan minat dan kebutuhan, sebab keduanya akan menjadi
 Aktifitas siswa.
Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya merencanakan pengajaran yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar.
 Motivasi.
Motivasi atau dorongan atau kebutuhan merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa yang mendorongnya berbuat mencapai suatu tujuan.

4. Teori Perencanaan Pengajaran
a. Menurut psikologi behaviorisme.
 Psikologi asosiasi.
Menurut psikologi ini tingkah laku indiviu tidk lain dari suatu hubungan antara rangsangan dengan jawaban atau stimulus- respon. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus- respon sebanyak- banyaknya siswa. Pembentukan hubungan stimulus respon dilakukan melalui ulangan latihan.
 Psikologi conditioning.
Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya yang mengkondisikan pembentukan suatu prilaku atau respons terhadap sesuatu. Mengajar menurut teori ini adalah membentuk kebiasaan mengulang- ulang suatu perbuatan kebiasaan.
 Psikologi penguatan.
Tokoh utama operant conditioning adalah Skinner, bertolak dari teori tersebutSkinner mengembangkan suatu program pengajaran yang terkenal dengan nama pengajaran berprogran atau programmed instruction.dalam pengajaran berprogram, bahan ajaran tersusundalam potongan bahan yang kecil- kecil dan disajikan dalam bentuk informasi tanya jawab. Hasilnya dinyatakan dengan kualifikasi tertentu, nilai yang baik akan mendapat pujian dan nilai yang buruk mendapat peringatan. Pengajaran berprogram disajikan dalam berbagai media pengajaran yaitu dalam bentuk buku programa, mesin, pengajaran, kaset audio, kaset video komputer.
b. Menurut psikologi Gestalt.
 Psikologi Gestalt.
Menurut teori gestalt belaar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepada bagian- bagian. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian- bagian yang mempunyai bagian- bagian yang mempunyai bagian satu sama lainnya.dalam belajar siswa harus mampu menangkap makna dan hubungan antara bagian yang satu dengan yang lainnya.
 Psikologi kognitif.
Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan sendiri dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentisifikasi merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, membuat interpretasi serta menarik kesimpulan. Pengajaran yang berdasarkan teori kognitif, menekankan proses belajar aktif, terutama aktif secara mental (melakukan proses mental atau proses berfikir) di dalam mencari dan menemukan pengetahuan serta menggunakannya.
 Psikologi medan.
Menurur teori ini individu selalu berada dalam suatu medan atau suatu lapangan (yaitu lapangan fenomenal atau lapangan psikologis). Dalam medan ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai individu, tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan.
Menurut teori medan, tujuan harus dipilih yang bermakna bagi siswa dan dirumuskan sejelas mungkin. Bahan dan tugas- tugas harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Disamping penggunaan Strategi dan media belajar yang tepat, motivasi dan pembimbingan siswa memegang peranan penting dalam meningkatkan upaya belajar siswa.




5. Faktor-Faktor Perencanaan Pengajaran
a. Kurikulum.
Dalam kurikulum tercantum tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pokok bahasan serta jam pelajaran untuk mengajarkan pokok bahasan tersebut.
Proses belajar mengajar perlu memperhatikan alokasi waktu belajar. Kalau waktu yang tersedia cukup banyak, maka sub pokok perlu yang akan disampaikan dapat lebih banyak, tetapi apabila waktu sedikit maka sub pokok bahasan dibatasi. Demikian juga pada waktu menyusun rincian bahan ajaran dalam satuan pelajaran, luasnya bahan dan banyaknya aktifitas belajar perlu disesuikan dengan waktu yang tersedia.
b. Kondisi sekolah.
Perencanaan program pengajaran perlu memperhatikan keadaan sekolah, terutama tersedianya sarana- prasarana dan alat bantu belajar.sarana- prasarana dan alat bantu pelajaran menjadi pendukung terlaksananya berbagai aktifitas belajar siswa.
c. Kemampuan dan perkembangan siswa.
Agar bahan dan cara belajar sesuai dengan kondisi siswa, maka penyusunan skenarionya atau program pengajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan siswa.untuk mengatasi variasi kemampuan siswa, maka guru perlu menggunakan metode atau bentuk kegiatan mengajar yang bervariasi pula.
d. Keadaan guru.
Guru dituntut memiliki kemampuan dalam segala hal berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Kalau pada suatu saat ia memiliki agi kekurangan, ia dituntut untuk segera belajar atau meningkatkan dirinya.bagi guru- guru yang pengalaman mengajarnya masih sangat sedikit kekurangan kemampuan pada guru juga diperhatikan.


G. KOMPONEN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Perencanaan Pembelajaran
Tujuan merupakan kemampuan yang dirancang untuk dikuasai oleh siswa baik setelah menyelesaikan pendidikan maupun dalam taha-tahap tertentu dari belajarnya dibedakan atas tujuan yang dicantumkan dalam kurukulum.
Tujuan perencanaan dalam pendidikan luar biasa yaitu agarguru dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar seoptimal dan seefesien mungkin yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelaian anak.

2. Macam-Macam Tujuan Pembelajaran
a. Tujuan umum.
 Pembelajaran disesuaikan dengan kecacatan anak
 Tujuan pelayanan pendidikan diberikan pada anak.
b. Tujuan khusus.
 Pembelajaran individual yang diberikan pada anak secara individu dan perorangan
 Pembelajaran diindividualisasikan pada tiap- tiap anak yang mempunyai kemampuan belajar yang berbeda dimana tugas pelajaran berbeda pengajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan anak. Tujuan khusus tersebut secara nasional untuk mendidik anak luar biasa sesuai dengan tingkat atau jenis kelamin anak.

H. MATERI PENGAJARAN
a. Karakteristik Materi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan materi pelajaran antara lain:
 Materi pelajaran hendaknya menunjang tujuan intraksional.
 Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkata pendidikan.
 Meteri pelajaran hendaknya terorganisasikan secara sistenatik dan berkesinambungan.
 Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual dan konseptual
Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan lebih lanjut mengenai masing-masing ketentuan di atas, ketentuannya sebagai berikut:
 Materi pelajaran hendaknya menunjang tecapai tujuan intrucsional
Dinegara manapun sekolah adalah tempat pendidikan yang berfungsi mengembangkan seluruh aspek keperibadian peserta didik, pemenuhan fungsi tersebut diwujudkan antara lain melalui pemberian berbagai jenis bidang studi atau mata pelajaran seperti pendidikan agama, pmp, ipa, ips, bahasa, dan sebagainya. untuk itu materi yang diberikan hendaknya mendukung pencapaian tujuan intraksional mata pelajaran yang bersangkutan, dalam rangka mewujudkan fungsi pendidikan yang diemban oleh sekolah tersebut.
 Materi pelajaran harus sesuai dengan tingkat pendidikan siswa.
Suatu topic yang sama dapat berbeda tingkat kedalamannya untuk tingkat seklah yan berbeda. Pembahasan tentang pembahasan topic lingkungan, kalimat dll, berbeda tingkat kedalamannya antara kelas satu, dua dan kelas tiga apalagi antara sd, smp, sma.
 Materi poelajaran hendaknya diorganisasikan secara sistematik dan berkesinambungan.
Dengan sistematik dan berkesinambungan dimaksudkan antara bahan yang satu dengan yang berikutnya ada hubungan fungsional, dimana bahan yang satu menjadi dasar untuk berkaitan dengan bahan berikutnya.
 Materi pelajaran hendaknya mncakup hal-hal yang bersifat factual maupun konsepotual.
Bahan yang factual sifatnya mudah dimengerti dan mudah diingat, sedangkan bahan yang sifatnya konseptual berisikan konsep-konsep abstrak dan memerlukan pemahaman yang lebih dalam. Dalam menetapkan materi pelajaran kedua jenis bahan tersebut perlu dimasukkan berhubung keduanya penting untuk mencapai tujuan.

b. Hal-Hal Yang Diperhatikan Dalam Pemilihan Materi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan materi
 Tujuan pengajaran
Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada tujuan-tujuan intruksional yang ingin dicapai.
 Pentingnya bahan
Materi yang diberikan hendaknya merupakan bahan yang betul-betul penting, baik dilihat dari tujuan yang ingin dicapai maupun fungsinya untuk mempelajari bahan berikutnya.
 Nilai praktis
Materi yang dipilih hendaknya bermakna bagi siswa dalam arti mengandung nilai praktis dan bermafaat bagi kehidupan sehari-hari.
 Tingkat perkembangan peserta didik
Kedalaman materi yang dipilih hendaknya ditetapkan dengan memperhitungkan tingkat perkembangan berfikir siswa yang besangkutan, dan hal ini biasanya telah dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang bersankutan.
 Tata urutan
Materi yang akan diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang memudahakan untuk dipelajarinya keseluruhan materi oleh siswa yang bersangkutan.

I. PROGRAM PERENCANAAN PENGAJARAN
1. Program Jangka Waktu Panjang
Program semester dalam dunia pendidikan merupakan satu periode waktu belajar. Dalam periode waktu tersebut siswa-siswa diharapkan menguasai satu kesatuan pengetahuan sikap dan keterampilan tertentu. Pada setiap akhir semerter diadakan evaluasi hasil belajar yang biasa disebut tes sumatif. Hasilnya setelah digabung dengan hasil-hasil tes sebelulmnya dapat dijadikan tolak ukur perkembangan atau kemajuan belajar siswa pada semerter tersebut. hasil evaluasi tersebut sampai batas waktu tertentu juga dapat dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan pengajaran yang dilakukan oleh guru pada semerter itu.
2. Program Jangka Waktu Pendek
Program semester belum dapat dijadikan pegangan untuk mengajar di kelas tetapi baru merupakan pegangan bagi pelaksanaan mengajar selama satu caturwulan. Untuk pegangan mengajar di dalam kelas, dari program semerter ini masi perlu dijabarkan lagi program-program untuk jangka waktu yang pendek misalnya program untuk setiap pokok bahasan. Program untuk setiap pokok bahasan ini biasanya merupaka program mingguan atau harian dan dewasa ini telah dikenal dengan nama satuan pelajaran. Isi dan alokasi waktu setiap satuan pelajaran tergantung pada luas dan sempitnya pokok satuan bahasan yang dicakupnya.
Suatu pokok satuan bahasan yang membutuhkan waktu hanya dua jam pelajaran, mungkin selesai diajarkan dalam satu pertemuan saja. Pokok satuan bahasan yang membutuhkan waktu empat jam pelajaran, perlu disampaikan dalam dua kali pertemuan penyajian. Apabila dalam jadual mata pelajaran itu diberikan dua kali dua jam pelajaran maka pokok satuan bahasan tersebut dapat diselesaikan dalam satu minggu, tetapi bila membutuhkan lebih dari empa jam pelajaran maka baru selesai diajarkan selama dua minggu bahkan mungkin juga lebih.

J. FORMAT SATUAN PEMBELAJARAN
Unsur- unsur yang harus ada dalam satuan pelajaran :
1. Tujuan pengajaran
2. Bahan pengajaran.
3. Kegiatan belajar.
4. Metode dan alat bantu belajar.
5. Evaluasi atau penilaian.
Penyusunan satpel pada hakikatnya mengaplikasikan pemahaman kelima unsur tersebut dan menuangkannya secara tertulis pada format satpel. Format satpel bisa dibuat secara vertikal maupun horizontal.

Format satpel bentuk vertikal adalah sebagai berikut :
Bidang studi : __________________________
Pokok bahasan : __________________________
Sub pokok bahasan : __________________________
Kelas/ semester : __________________________
Waktu : __________________________
I. Tujuan pengajaran.
a. Tujuan Pengajaran Umum : __________________________
b. Tujuan Pengajaran Khusus : __________________________
II. Bahan pengajaran : __________________________
III. Kegiatan belajar mengajar
a. Kegiatan Guru : __________________________
b. Kegiatan Siswa : __________________________
IV. Metode dan alat pengajaran
a. Metode : __________________________
b. Alat : __________________________
c. Sumber : __________________________
V. Evaluasi/ penilaian
a. Prosedur Evaluasi : __________________________
b. Alat Evaluasi : __________________________

Dalam praktek terdapat beberapa modifikasi bentuk diatas. Misalnya, tak perlu dicantumkan tujuan pengajaran umum sehingga cukup dengan tujuan pengajaran khusus saja. Alasannya, bahwa tujuan pengajaran umum telah ada dalam kurikulum ( GBPP ) sehingga tidak perlu dibuat lagi oleh guru.
Adapula yang memasukkan petunjuk umum sebelum tujuan pengajaran. Petunjuk umum berisi penjelasan singkat mengenai apa yang perlu dikuasai siswa sebelumnya, agar bahan pengajaran yang akan diajarkan dapat lebih dipahami serta penjelasan lain yang dianggap perlu sehubungan dengan bahan pengajaran yang akan diajarkan

TERAPI ANAK AUTIS

Posted by romiariyanto

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Motorik adalah sesuatu yang berhubungan dengan gerakan sering kita lihat anak berkebutuhan khusus mengalami gangguan dalam motoriknya. Gangguan motorik merupakan gangguan perkembangan anak. Kalau motorik anak kurang baik akan mempengaruhi dalam pernyesuaiam diri dan akan mengakibatkan rasa renadh diri.
Dasar perkembangan motorik merupalam fomdasi bagi setiap individu untuk memahami ruan lingkup gerak. Pada prinsipnya perkembangan motorik akan adalah adanya suatu perubahan baik pisik maupun psikis sesuai dengan masa peryumbuhannya dan sesuai denan kematangan motorik ini sangat terantung pada integrasi system saraf dan system kerangka otot. Anak yang mampu mencapai perkembangan motorik yang terkoordinasi sangat ditentukan oleh keadaam dan kemauan anak itu sendiri.
Anak autis mengalami gangguan bidang komonikasi bahasa, kognitif, social dan fungsi adaptif, sehinngga menyebabkan mereka semakin lama semakin jauh tertinggal disbanding anak-anak seusia mereka ketika umur mereka makin bertambah.
Menurut Rutter dan scopler dalam siti rahayu (2001:373) sifat yang khas pada anak autis adalah: perkembangan hubungan social terganggu, pola prilaku yang khas terbatas, manifestasi gangguan nya timbul pada tahun pertama.
Gangguan atau gejala untuk anak autis dapat dikurangi bahkan dapat dihilangkan, sehingga anak autis dapat bergaul secara normal, tumbuh sebagai oran dewasa yang sehat, berkarya bahkan membina keluarga.
Pada anak autis kalau tidak diatasi dari sekarang maka akan mengakibatkan anak akan semakin parah bahkan tidak tertanggulangi dan menakibatkan anak menjadi terbelakang mental. Maka melalui terapi dan kemauanlah anak autis akan mengalami kemajuan seperti anak normal.
Berdasarkan permasalahan diatas penulis membahas tentang “terapi yang dapat meningkatkan motorik anak autis melalui metode okupasi”.
Oleh karena itu metode okupasi mungkin akan meningkatkan kemampuan anak autis dalan hal motorik, keterampilan untuk dirinya sendiri dan menimbulkan kesibukan tersendiri.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat penulis identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Anak mengalami gangguan dalam perkembangan
2. Anak autis dapat diberikan latihan atau terapi
3. Terapi dapat menghilangkan gangguan pada anak autis

C. Batasan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah maka yang menjadibatasan makalah adalah “Terapi okupasi untuk meningkatkan perkembangan motorik pada anak autis”
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas maka yang menjadi rumusan masalah adalah Apakah ada terapi okupasi dapat meningkatkan perkembangna motorik anak autis?

E. Manfaat
Hasil dari pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Penulis
Menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam meningakatkan pendidikan terutama pendidikan untuk anak autis
2. Masyarakat
Agar masyarakat baik yang ada di Limau Manis maupun di daerah lain tahu bahwa pendidikan itu penting untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM), apalagi untuk anak autis sangat penting sekali pendidikan itu karena tanpa pendidikan akan susah baginya untuk berkomonukasi dengan orang lain atau kelangsungan hidupnya.
3. Guru
Hasil penulisan makalah ini diharapkan sebagai pedoman dalam pengembangan pendidikan anak autis karena pendidikan sangat penting sekali baginya.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Modifikasi Perilaku
1. Pengertian Modifiakasi
Modifikasi perilaku adalah tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku, selain itu devinisi modivikasi perilaku yang tepat adalah usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologis hasil eksperimen pada perilaku manusia itu sendiri (Bootzin, 1975)
Menurut oleh kelompok behavior power dan osborn (1976) memberikan batasan modivikasi sebagai penggunaan secara sistematis teknik kondistoning pada manusia untuk keberhasilan perubahan prekwensi perilaku social tertentu
Modifikasi perilaku memanfaatkan penelitian-penelitian yang cermat mengenai cara-cara lingkuangan mempengaruhi perilaku manusia.

2. Keungulan Dan Kelemahan Modifikasi Perilaku
a. Keungggualan dari modifikasi perilaku
1. Langkah-langkah dari modifikasi perilaku dapat direncanakan dan diminta persetujuan terlebih dahulu
2. Perincian pelaksanaan dapat diubah selama perlakuan berlangsung dan perubahan tersebut sesuai dengan kebutuhan
3. Bila dari hasil monitoring ternyata suatu teknik gagal dan kurang berhasil untuk menemukan perubahan dapat dideteksi dan diusahakan penggantinya
4. Waktu yang dibuuhkan didalam pelaksanan lebih singkat dari pada menggantungkan perubahan yang terjadi secara insting yang diperoleh secara subjek
5. Teknik-teknik dalam modifikasi perilaku dapt diterangkan secara rasional

b. Kelemahan dari modifikasi perilaku
1. Percobaan-percobaan awal dilakukan dalam modifikasi perilaku yaitu menggubabkan media binatang
2. Perilaku manusia kompleks sehingga untuk melakukan analisis perilaku yang tepat untuk memerlukan latihan dan kecermatan terapis
3. Tidak semua perilaku manusia dapat diamati secar langsung sehingga modifikasi perilaku mengalami kesulitan intuk mengubah perilaku yang pengamatannya tidak langsung

3. Analisis Fungsi
Langkah-langkah awal dalm modifikasi perilaku adalah analisis fungsi dalam analisis fungsi inrormasi yang relevan dikumpulkan sesuai dengan permasalahan yang akan ditangani
Ada 3 hal yang diperlukan dalam analisis fungsi yaitu:
a. A (Antecedent) ialah segala hal mencetuskan dan menyebabkan perilaku dan dipermasalahkan
b. B (Behavior) ialah akibat-akibat yang diperoleh setelah perilaku yang dipermasalahkan
c. C (consequence) ialah yang diperoleh setelah perilaku tersebut

B. Perkembangan
1. Pengertian perkembangan
Para ahli psikolagi mengartikan bahwa perkembangan adalah suatu proses perubahan yanmgb mengarah kepada kemaujuan. Perkembangan menyebabkan tercapainya kemampuan-kemapuan dan karakter psikis baru. Perubaham yang dimaksudkan sebagai perkembangan itu terjadi apabila individu mengalami dua hal yaitu pertumbuhan dan belajar.

2. Prinsip-pinsip perkembangan
Prinsip-pinsip perkembangan artinya aturan-aturan yang secara alamiah yang mengatur perkembangan tersebut diantaranya adalah:
a. Prinsip kesatuam organis
b. Prinsip tempo dan irama perkembangan
c. Prinsip kesamaan pola
d. Prinsip kematangan
e. Prinsip kontiniutas
f. Prinsip kecepatan

3. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Dibawah inil para ahli dari berbagai aliran mengemukakan kecenderungan yang berbeda-beda mengenai factor yang mempngaruhi perkembangan.
a. Para ahli dari aliran natifisme
Mengemukakan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan oleh factor didalam diri dibawa anak sejak lahir, factor ini disebut bakat baik bakat fisik maupun psikis.
b. Para ahli dari aliran empirisme
menurut mereka factor yang paling menentukan dalam pekembangan individu adalah lingkungan pendidikan, factor dalam diri individu dianggap tidak memegang peranan penting.
c. Para ahli dari aliran konfergensi
tokoh aliran ini adalah William stern yang berpendapat bahwa individu berkembang sebagai hasil pengaruh panduan antara factor-faktor hereditas dan pendidikan.
d. Kondisi yang mempengaruhi kelahiran pralahir
1. Gizi ibu
2. Kekurangan fitamin
3. Kesehatan ibu
4. Factor RH
5. Obat-obatan
6. Sinar x dan radium
7. Alcohol
8. Tembakau
9. Emosi calon ibu

4. Pengertian perkembangan motorik
Mororik ialah sesuatu yang berhubungan dengan gerakan perkembangan motorik adalah suatu perubahan dalam perilaku gerak yang memperlihatkan interaksi dari kematangan makhluk dan lingkungan pada manusia, perkembangan mororik merupakan perubahan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak.
Berbagai upaya yang telah dialakukan sekelompok pakar perkembangan gerak memunculkan defenisi mengenai pekembangan motorik yaitu sebagai perubahan dalam perilaku gerak yang merefleksikan interaksi dari kematangan organisme dan lingkungan

5. Prinsip-prinsip pekembangan motorik
Prinsip-prinsip perkembangan motorik adalah adanya suatu perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya. Berikut ini prinsip-prinsip perkembangannya:
a. Perkembangan bergantung pada kematangan otot syaraf
b. Belajar motorik terjadi sebelum anak matang
c. Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan
d. Dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik
e. Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik

C. Autis
1. Pengertian anak autis
anak autis adalah suatu jenis gangguan pada anak yang komplek dan berat yang sudah tampak saat usia 3 tahun pertama dan membuat mereka tidak mampu berkomunikasi, tidak mampu mengekperikan perasaan maupun keinginan sehingga perilaku dan hubungannya dengan orang lain terganggu.
Istilah autis juga sisebut autisma infantile karena hasil penelitian yang ada semua dilakukan pada anak kecil. Akhir-akhir ini banyak data yang menunjukkan bahwa anak autis mepunyai sifat tersendiri diantara gangguan mental dan gangguan dibidang kognitif, fungsi adaptif, sehingga menyebabkan anak-anak tersebut semakin lama semakin jauh tertinggal dengan anak seusianya.
2. Kalisifikasi anak autis
Berdasarkan perbedaan dari gejala autis dapat dekelompokkan menjadi tiga yaitu:
a. Autisme persepsi
Autisme persepsi merupakan autisme asli karena kelainannya sudah timbul sejak lahir, autisme ini terjadi berbagai factor yaitu keluarga (herediter) dan lingkungan (makanan).


b. Autisme reaksi
Timbulnya reaksi autis ini karena beberapa factor kemasalahan yang terjadi karena kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah rumah dan lain-lain.
c. Autisme yang timbul kemudian
Autisme jenis ini terjadi setelah anak besar dikarenakan terjadinya jaringan otak setelah anak lahir, hal ini mempersulit memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah perilaku yang sudah melekat
d. Factor penyebab anak autis
Adapun factor penyebab anak autis banyak sekali misalnya populasi bahan beracun dan lingkungan, faksin-faksin bahan pengwet dan berbagai macam alergi.
Dibawah ini dugaan penyebab dan diaknosis medisnya adalah
a. Susunan urat syaraf pusat. Ditemukannya kelainan anatomi susunan syaraf pusat pada beberapa tempat dalam otak anak autis
b. Gangguan sistim pencernaan
c. Peredangan dinding usus
d. Factor genentika
e. factor keracun logam berat

3. Karakteristik anak autis
Adapun karakteristik anak autis (pamuji, 2007) yaitu:
a. Gangguan, keanehan dalam berintegrasi dengan lingkungannya
b. Gangguan dalam kemampuan komunikasi
c. Gangguan dan keanehan dalam motorik, minat terbatas dan respon yang kurang memadai.

BAB III
PEMBAHASAN

TERAPI MOTORIS ANAK AUTIS
Karena penulis membahas perkembangan motoris anak autis maka disini penulis mencoba memberikan beberapa model terapi yang akan cocok denan terapi motorik anak autis.
1. Terapi medikamentosa
Terapi ini dilakukan dengan obat-obatan yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku anak serta diulang-ulang. Dalam kasus ini gangguan yang terjadi di otak sehingga obat-obatan adalah yang berkerja di otak
2. Terapi perilaku
Terapi bertujuan agar anak autis dapat mengurangi perilaku tidak wajar dan menggantinya dengan perilaku yang dapat diterima masyarakat
3. Terapi okupasi
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak autis yang mempunyai perkembangan motorik yang kurang baik antara lain, gerak-geriknya kasar dan kurang lues. Terapi okupasi ini akan menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot halus anak.
Dalam terapi okupasi ini hal-hal yang harus diperhatikan, karena dengan terapi ini motorik anak autis dapat memfungsikan motorknya dengan baik
a. Persiapan terapi okupasi
1. Menentukan materi latihan
Penentuan materi latiahan yang tepat berpengaruh pada perhatian dan keyakinan anak untuk melakukan latihan
2. Menentukan cara dan pendekatan
Hal ini perlu memperhatikan karakteristik anak autis
3. Menentukan waktu
Hal ini menyangkut kapan latihan dan berapa lamanya
4. Menentukan tempat
Hal ini sebaiknya tempat yang digunakan sesuai dengan keadaan, materi latihan dan alat yang digunakan.

b. Tujuan terapi okupasi
Tujuan terapi tidak hanya terbatas aktifitas juga mencakup perkembangan intelektual, social, emosi maupun kreatifitas.
1. Difersional yaitu menghindari neurosis dan memelihara mental dan dapat juga berguna untuk menyalurkan emosi atau kekesalan. Anak autis akan memiliki kegiatan untuk menyalurkan kekesalan dan mengembaliklan harga dirinya.
2. Pemulihan fungsional ini dapat membuat persendian, otot dan kondisi tubuh umumnya dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup
3. Latihan prefokasional, memberikan anak pelaung untuk menghadapi tugas, pekerjaan atau profesi yang sesuai denga kondisinya.

c. Sasaran terapi okupasi
Mengingat anak autis mempunyai kebutuhan khusus dalam hal berkomunikasi maka dalam terapi bukan hasil yang menjadi perhatian utama melainkan juga terbentuknya cara berkomunikasi anak sebagaimana mestinya. Berikut ini sasaran terapi bagi anak autis:
1. Memiliki kemampuan mobilitas yang baik
2. Memililki kemampuan appersepsi yang baik
3. Memiliki kemampuan bereaksi
4. Memiliki kemampuan komunikasi meskipun sederhana
5. Memiliki kemampuan mengurus diri
6. Memiliki kemampuan bergaul yang sederhana
7. Memiliki kemampuan bekerja terutama yang bersifat seni, keterampilan untuk bekal hidup.


d. Pelaksanaan terapi okupasi
1. Menentukan bahan
2. Waktu pelaksanaan
3. Penilaian

e. Ragam latihan okupasi
1. Latihan mereaksi: yaitu latihan memanggil namanya, anak dilatih menoleh jika dipanggil namanya, dengan menoleh anak mengangkat tangan.
2. Kegiatan yang bermanfaat seperti anak diberikan plastiisin kemudian disuruh membentuk benda-benda tertentu
3. Kebiasaan gerak, latihan berjalan pada garis lurus, anak dialatih berjalan secara bebas dahulu kemudian guru berjalan digaris lurus.
4. Kemempuan motorik kasar. Bejalan bebas tanpa bantuan anak mengangkat kaki dan menganyunkan tangan yang berlawanan dengan langkah kaki dan melempar bola.
5. Kemampuan motorik halus yaitu menyusun kubus, memungut atau mengambil benda kecil, merangkai benda-benda kecil
6. Pengembangan fungsi indera, yaitu indra penglihatan dengan cara menyortir bentuk benda contoh menyusun pazel dan indra perabaan misalnya membedakan benda kasar dan halus, berat dan ringan
7. Kemampuan diri sendiri yaitu mengambil makanan dari minuman sendiri, makan menggunakan tangan, mencuci tangan, menggunakan kamar mandi, melepas sepatu tanpa tali, bercermin, menyisir rambut.
8. Kesibukan, untuk melatih anak dengan kesibukan ini adalah kegiatan yang dilakukan sambil bermain dan anak dapat diberikan benda-benda yang menarik seperti plastisin sehingga anak dapat sibuk dengan benda dan secara perlahan kita mereka.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas mak dapat disimpulkan bahwa anak autis merupakan bagian dari Anak Berkebutuhan Khusus yang mengalami gangguan perkembangan motorik disebabkan kelainan yang mereka alami. Namun demikian hambatan yang dihadapi anak autis ini dapat diatasi dengan melakukan intevensi dini dengan cara memberikan terapi okupasi
Terapi okupasi ini dapat merngasang perkembangan dan pertumbuhan anak autis, sehingga mereka mampu melaksanakan aktifitas-aktifitas sehari-hari mereka tanpa harus tergantung pada orang lain.

B. Saran
Melalui makalah ini penulis dapt menyampaikan beberapa saran kepada:
1. Orang tua anak autis
Agar lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka, termasuk perkembangan motoriknya. Hambatan motorik yang dihadapi anak yang diacarikan solusi dengan mengkonsultasikan kepada ahli-ahli terkait, sehinggan anak dapat tumbuh dan berkembang lebih baik.

2. Guru
Guru hendaknya mengidentifikasikan pemberian latihan motorik melalui metode okupasi ini selama anak autis berada disekolah, serta memberikan bimbingan kepada orang tua tentang cara-cara penerapan metode okupasi tersebut dirumah.

DAFTAR PUSTAKA

Bonny Danuatmaja, (2003). Terapi anak autis dirumah. Jakarta: Puspa Swara
M. Yudha Saputra (2005). Perkembangan gerak. Jakarta. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa
Elida Prayitno, (2005). Buku Ajar Anak Usia Dini dan Usia Sekolah. Padang: Angkasa Raya
Simanjutak. B dan I. L Pasaribu, (1984). Pengantar Psikologi Perkembangan. Bandung. Tarsit

BAGAIMANA MEWUJUDKAN TULISAN ILMIAH ?

Posted by romiariyanto

Oleh : Marlina, S.Pd. M.Si
Pendahuluan
Ada banyak kasus dimana orang (guru, dosen, mahasiswa, dan sebagainya) mengalami scientific phobia manakala harus membuat sebuah karya ilmiah untuk suatu tugas atau naik pangkat. Bahkan sebagian dari mereka akan merasa lebih senang bila tugas tersebut dapat diganti dengan tugas lain, selain menulis. Indikasi ini cukup jelas, mereka mau menulis meskipun terpaksa. Akhirnya tulisan dibuat sebagai karya ritual tanpa makna, sehingga aktivitas menulis karya ilmiah dirasa berat dan menyiksa.
Hasil kerja tanpa penghayatan tersebut akan terlihat dengan nyata, ketika karya yang sepotong-potong (baca : bab demi bab) diserahkan kepada dosen pembimbing. Maka seiring dengan itu meluncurlah doa ritual yang sudah populer dikalangan mahasiswa yang berbunyi : “semoga disetujui…… semoga diterima!”. Pernyataan tersebut kedengarannya sangat wajar. Memang wajar untuk menyatakan secara implisit tentang ketidakyakinan akan tulisan sendiri. Mereka mengkonsultasikan tulisan hanya untuk mendapatkan persetujuan pembimbing. Bahkan dalam proses pembimbingan kesan yang timbul adalah sah tidaknya karya tulis yang diajukan merupakan anugerah pembimbing, bukan hasil pemikiran dan penilaian bersama. Dalam hal ini mahasiswa seolah-olah berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dimana dosen memiliki otoritas penuh sebagai sang legitimator (?).
Penyebabnya sangat sederhana tetapi cukup mendasar. Pertama, belum membudayanya tradisi menulis karya ilmiah di kalangan mahasiswa. Kedua, menulis karya ilmiah hanya merupakan tuntutan akademik belum merupakan kebiasaan yang menyenangkan. Hasil sudah dapat ditebak, ketika harus menulis maka mereka akan mengalami kesulitan dan tidak tahu tentang apa yang harus ditulis dan bagaimana menuliskannya. Ini inti persoalannya.

Permasalahan tersebut bukan berarti tidak dapat diatasi. Secara prinsip sebenarnya tak ada yang istimewa ketika harus membuat karya tulis ilmiah, bila kita bicara dalam term ilmiah. Sebab penyakit scientific phobia sebenarnya lebih mengisyaratkan hambatan psikologis daripada problem teknis. Semuanya hanya soal kebiasaan, kemauan belajar, dan cara memandang persoalan, sehingga tidak perlu beranggapan bahwa membuat karya tulis ilmiah hanya hak prerogatif segelintir orang saja. Pada galibnya mereka dapat menguji karya sendiri sebelum diajukan sebelum mendapatkan persetujuan. Implikasi dari itu semua adalah dalam masa-masa membuat karya tulis ilmiah, tak perlu ada yang mengalami scientific phobia. Tak perlu ada yang merasa lebih hebat. Tak perlu ada yang merasa lebih bodoh, merasa tidak berharga, merasa tersiksa dan tak perlu lainnya.
Seharusnya masing-masing pihak yang berkecimpung dalam dunia ilmiah menggunakan kacamata yang sama dalam memandang hal tersebut, yaitu kacamata ilmiah. Sehingga semuanya akan terlihat sebagai sesuatu proses yang wajar-wajar saja, dan penilaian yang kemudian dilakukan akan tetap terjaga objektivitasnya. Tulisan ini tidak berpretensi untuk membahas secara mendetail dan tuntas tentang persoalan teknik penulisan karya ilmiah. Tetapi lebih mengarah pada segi praktis-empiris agar dapat melengkapi tulisan lain yang membahas tema serupa.

Apakah Teknik Penulisan Ilmiah Bisa Dipelajari ?
Ketika Dale Carnigie bertanya pada peserta kursus jurnalistik, “mengapa kalian datang kesini? Apakah karena kalian ingin terampil menulis?”. “Yaaaa…….!”, jawab mereka. “Sebaiknya kalian pulang saja dan mulai menulis, sebab kalau itu keinginan kalian, tidak ada yang bisa dipelajari di sini!”. Carnigie hari itu batal memberi ceramah, dan mereka telah mendapat pelajaran yang sangat berharga hari itu.
Memang untuk dapat menulis tidak ada cara yang lebih baik selain menulis, menulis dan menulis. Tanpa pernah menulis jangan harap dapat menulis dengan baik ketika harus menulis. Walaupun ia punya seribu satu gagasan di otak, pernah mengikuti kursus tulis menulis, ataupun sering membaca buku keterampilan tulis menulis. Dalam hal ini yang terpenting adalah kemauan dan berlatih. Adapun pengetahuan tentang tulis menulis hanya memberikan sumbangan untuk meningkatkan kemampuan. Tidak ada yang tidak bisa dipelajari sehingga menulis karya ilmiah bukanlah barang mewah yang tidak bisa terjangkau.

Mengapa Perlu Ditulis ?
Sudah menjadi watak dasar manusia untuk selalu berpikir. Ia secara potensial menghasilkan pemikiran, gagasan atau yang lain. Hasil penelitian, pemikiran, gagasan akan lebih berguna bila ditulis sehingga dapat dikaji kembali oleh orang lain untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Manfaat lain dengan ditulis adalah akan menjadikan penulis sebagai produsen pemikiran bukan sebagai konsumen pemikiran, yang merupakan ciri khas kaum intelektual. Sehingga naif sekali kalau ada kaum intelektual yang tugasnya hanya mengkonsumsi pemikiran orang lain tanpa pernah menghasilkan pemikirannya sendiri serta mempublikasikannya.

Mengapa Harus Menggunakan Bahasa Ilmiah ?
Bahasa tulis memiliki fungsi sebagai mediator untuk berkomunikasi. Komunikasi dikatakan sukses bila gagasan yang disampaikan oleh kumunikator dapat diterima sepenuhnya oleh komunikan. Artinya, ada sinkronisasi antara yang dipikir dengan yang ditulis, antara yang ditulis dan yang dibaca, dan antara yang dibaca dengan yang dimengerti. Agar mudah dipahami secara universal, maka perlu ditetapkan standar-standar tertentu dalam menulis, yang selanjutnya disebut standar ilmiah. Standar ini meliputi standar dalam berpikir dan metodologi.
Dengan kaca mata ilmiah, siapapun pada prinsipnya akan dapat membaca, menilai, dan mengambil manfaat dari tulisan yang dibuat. Dalam hal ini kemampuan menulis ilmiah merupakan prasyarat untuk dapat mengkomunikasikan gagasan secara tertulis dengan baik. Karena itu untuk menjamin dapat dihasilkannya tulisan yang memenuhi syarat, harus mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Jadi, teknik penulisan ilmiah memberi tuntunan bagaimana dapat menuangkan gagasan dengan tulisan, sehingga keutuhan gagasan tetap terjaga.

Menulis Ilmiah Itu Apa?
Membuat tulisan ilmiah adalah proses menyusun bahan-bahan tulisan menjadi satu kesatuan koordinasi, yang secara keseluruhan merupakan proses pemecahan masalah ilmiah (scientific problem solving) secara sistematis. Lahirnya sebuah tulisan ilmiah berawal dari adanya masalah dan diakhiri dengan kesimpulan yang merupakan jawaban dari masalah yang dikaji. Jadi, inti dari karya tulis ilmiah adalah : pertama, bagaimana memecahkan pokok masalah. Kedua, bagaimana cara membahas dan menulis pokok masalah tersebut. Oleh karena itu dalam tulisan ilmiah terkandung dua unsur pokok, yaitu konsep berpikir ilmiah dan metode ilmiah. Keduanya merupakan prasyarat menghasilkan tulisan ilmiah.
Alur berpikir dalam tulisan merupakan peraduan antara berpikir rasional dengan deduktif (secara teioritik) dan berpikir secara empirik (dengan induktif). Keduanya merupakan struktur baku dalam berpikir ilmiah. Konsep rasional-deduktif-teoritik akan menghasilkan hipotesis. Sedangkan proses pengujian hipotesis (verifikiasi atau valsifikasi) yang dilakukan secara empirik dengan induksi akan menghasilkan kesimpulan yang merupakan jawaban masalah yang dikaji. Namun, tidak semua proses problem solving yang dilakukan selalu menggunakan hipotesis, seperti dalam laporan penelitian kualitatif.
Oleh karena itu tidak semua karya ilmiah menggunakan konsep problem solving yang lengkap semacam itu. Laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi, merupakan jenis-jenis tulisan ilmiah yang menerapkan konsep berpikir ilmiah secara utuh. Namun ada pula jenis tulisan ilmiah yang hanya menerapkan sebagian dari konsep berpikir ilmiah, diantaranya adalah makalah.
Problem solving dalam makalah biasanya memilih salah satu pola. Pola pertama, hanya menerapkan pola rasional–deduktif-teoritik dengan kesimpulan sebobot hipotesis. Atau dengan pola kedua, yaitu induktif-empirik, dimana pengkajian dilakukan berdasarkan bahan-bahan dari lapangan yang kemudian dibahas, bisa dengan menggunakan analisis teoritik. Bobot kesimpulannya hanya sebatas hipotesis. Sebab kedua pola ini tidak dilakukan proses verifikasi (pengujian kebenaran) atau valsifikasi (pengujian ketidakbenaran) yang dilakukan secara sempurna.

Masalah Seperti Apa yang Layak Ditulis ?
Pada prinsipnya semua masalah dapat ddijadikan bahan tulisan, tetapi tidak semua masalah memiliki kadar ilmiah. Sebuah masalah dikategorikan ilmiah dan layak ditulis paling tidak memenuhi tiga syarat, yaitu : punya nilai, visibel, dan sesuai dengan kualifikasi penulis.
Syarat pertama adalah masalah harus punya nilai, artinya :
1. Masalah memang penting dan bermanfaat untuk perkembangan ilmu secara konseptual ataupun secara sosial pragmatis.
2. Variabel-variabel dalam masalah yang dikaji harus menyatakan hubungan. Terjadinya sesuatu ada kaitannya dengan sesuatu yang lain, sebagai konsekuensi atau sebagai penyebab.
3. Masalah harus orisinil, bukan merupakan duplikasi.
4. Masalah harus dapat diuji secara teoritik dan empirik.
Syarat kedua adalah masalah harus fisibel, artinya :
1. Tersedia data untuk menguji atau membahasnya.
2. Tersedia metode untuk mengkajinya.
3. Tersedia sarana yang cukup (ATK, waktu, biaya dan lainnya).
4. Masalah yang ditulis bebas dari unsur sara.
Syarat ketiga adalah kualifikasi penulis, artinya :
1. Masalah yang dikaji sesuai dengan bidang ilmu penulis.
2. Penulis harus berminat terhadap tema yang dipilih.
3. Penulis punya kemampuan mengkajinya.
Dimana Masalah Dapat Diperoleh ?
Masalah ilmiah selalu berkisar pada upaya pengembangan ilmu secara konseptual dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, sebenarnya masalah ilmiah juga terdapat dalam lingkup tersebut. Ada tiga sumber masalah yang secara potensial dapat digali sebagai bahan tulisan ilmiah. Sumber tersebut adalah P3 (Place, paper, dan person). Place (tempat) merupakan sumber masalah yang sangat potensial. Pasar, sekolah, kampung, jalan, raya, rumah, bioskop, tempat dan sebagainya. Tempat tidak harus menyatakan unsur geografis. Berbagai fenomena yang terjadi di berbagai setting kehidupan juga termasuk lingkup ini. Seperti masalah sosial, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya. Paper (kertas) merupakan sumber masalah yang tak akan habis digali. Termasuk didalamnya adalah buku, skripsi, tesis, jurnal, majalah, booklet, ataupun semua karya ilmiah yang dibuat dalam bentuk karya tulis. Hampir semua tulisan tersebut dapat dijadikan sumber masalah, yang penting memenuhi syarat. Person adalah siapa saja yang dapat menyampaikan gagasan tentang masalahnya sendiri maupun masalah orang lain. Biasanya masalah ilmiah yang aktual dapat diperoleh dari para ahli, ataupun praktisi yang banyak berkecimpung dalam dunia riset. Dalam seminar, kuliah, ceramah, dan sebagainya biasanya hal ini akan muncul.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menulis ?
Kita harus tahu dulu apa tujuan dan untuk siapa tulisan dibuat. Artinya kita harus tahu betul dalam kerangka tugas keilmuan apa tulisan itu dibuat, dan siapa konsumen yang akan membaca tulisan tersebut. Keduanya akan menentukan gaya penulisan, kedalaman bahasa, pengunaaan istilah, dan teknik penyajian. Kaitannya dengan pembaca, ada tiga pertanyaan sebagai bahan pertimbangan yang harus dijawab sebelum menulis :
1. Sampai dimana tingkat pengetahuan pembaca.
2. Apa yang perlu diketahui oleh pembaca tersebut.
3. Bagaimana cara menyajikan sehingga keterangan yang diberikan dapat dicerna dengan mudah oleh sipembaca.
Tulisan untuk masyarakat umum seperti artikel, brosur, ataupun summary report (laporan ringkas) akan memiliki gaya pembahasan yang tidak terlalu detil, dan mendalam. Gambaran yang diberikan biasanya cukup praktis. Istilah-istilah yang digunakan juga direduksi sesederhana mungkin sesuai dengan tingkat pengetahuan pembaca. Pokok masalah yang disampaikan hanya ditonjolkan pada beberapa bagian yang biasanya memiliki implikasi langsung terhadap kepentingan masyarakat.
Tulisan untuk masyarakat ilmiah merupakan tulisan yang menerapkan konsep ilmiah secara utuh. Biasanya tulisan yang dibuat merupakan hasil riset yang dilakukan di lapangan. Pembahasan tulisan jenis ini sangat detil dan mendalam, baik secara logis maupun metodologis sehingga dalam tulisan yang dibuat akan disajikan pula tentang teknik, desain, alat, yang digunakan dalam riset. Bentuk yang umum dikenal ada dua macam, yaitu monograf (laporan lengkap secara mendalam dan rinci) ataupun dalam artikel ilmiah (lengkap tetapi tidak detil dan mendalam). Dalam rangka untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan ini tulisan jenis ini sangat membantu karena mudah dikaji kembali, diuji atau melakukan verifikasi untuk meningkatkan derajat kepercayaannya.

Sembilan Langkah Mewujudkan Tulisan
Persoalan klasik yang dialami para penulis adalah bagaimana mendapatkan masalah yang layak tulis dan apa yang harus dilakukan setelah masalah diperoleh. Bagan berikut merupakan prosedur yang dianjurkan untuk mengatasi hal tersebut.

Bagan sembilan langkah mewujudkan tulisan

Langkah pertama : Menyusun daftar masalah.

Bagi penulis sering muncul persoalan bagaimana menentukan masalah, walaupun ia sendiri telah mengetahui kriteria masalah yang layak tulis dan yang tidak. Kadang ingin meniru masalah orang lain, tapi rasanya kurang puas, apalagi bila banyak membaca buku tetapi tidak teratur. Setelah menentukan masalah yang dianggap cocok, biasanya akan tergoda dengan munculnya masaah lain yang nampaknya lebih menarik. Hal ini akan terus berlangsung selama prosedur mencari masalah yang dilakukan tidak sistematis. Energi akan terkuras habis, tetapi masalah yang dicari tidak ditemukan. Hal itu tidak salah, hanya saja sangat tidak efektif jika diteruskan. Sebab akan terjadi ketidakseimbangan antara energi yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Beberapa ahli menganjurkan satu langkah praktis mengatasi hal ini dengan cara membuat daftar masalah.
Daftar masalah merupakan kumpulan masalah-masalah. Cara membuatnyapun mudah, setiap menemukan masalah yang dianggap cocok cukup dituliskan pada daftar. Tapi ingat! jangan dinilai lebih dahulu. Sebab bila ini dilakukan maka terulang kesalahan terdahulu. Biarkan masalah didaftar dulu apa adanya. Setelah dianggap cukup banyak baru dilakukan seleksi. Seleksi dilakukan pada setiap masalah yang ada pada daftar. Tujuannya untuk mengetahui kelayakan masing-masing masalah tersebut. Untuk menghindari unsur subyektif dalam menilai, maka harus berpedoman pada kriteria yang telah ditetapkan. Untuk lebih mudah, cukup dilakukan dengan menjawab pertanyaan seperti berikut ini :
1. Apakah cukup berguna atau penting?
2. Apakah cukup aktual?
3. Apakah lingkupnya cukup terbatas?
4. Apakah menghasilkan sesuatu yang baru (ide baru, metode baru, pandangan baru, hasil baru, ataupun masalah baru)?
5. Apakah tersedia data atau informasi untuk itu?
6. Apakah sesuai dengan disiplin ilmu penulis?
7. Apakah dapat dikaji sesuai kapasitas ilmu penulis?
8. Apakah penulis punya interest?
Bila kedelapan pertanyaan tersebut dijawab dengan “ya’ secara mantap. Berarti sudah tidak ada persoalan. Masalah yang layak ditulis telah diperoleh. Tetapi seandainya ternyata ada pertanyaan yang dijawab dengan “tidak”, ataupun dijawab “ya” dengan tidak mantap, berarti masalah tersebut tidak layak. Carilah masalah lain dan seleksi kembali. Demikian seterusnya sampai diperoleh masalah yang layak.

Langkah kedua : mendalami masalah.
Mendalami masalah bertujuan untuk memantapkan penulis dalam memilih pendekatan, membatasi masalah, dan mendefinisikannya. Tujuannya agar perspektif tentang masalah yang dipilih menjadi lebih luas dan mendalam. Dengan demikian penulis dituntun untuk memilih secara arif pendekatan yang cocok. Urgensinya agar pada saat pengkajian dilakukan penulis tidak mudah tergoda oleh munculnya pertanyaan dari referensi lain yang muncul belakangan. Tujuan lainnya adalah untuk menghindari duplikasi.
Mendalami masalah dilakukan dengan cara membaca literatur, diskusi/konsultasi dengan ahli, praktisi, atau rekan sejawat, melihat fenomena secara langsung dan sebagainya. Yang penting adalah bagaimana mendapatkan informasi tentang masalah tersebut dari berbagai sisi. Sehingga seandainya masalah yang diangkat itu aktual, ya memang benar-benar aktual. Bukan aktual menurut persepsi penulis saja. Dalam daftar masalah akan diperoleh masalah (tema) yang masih luas, maka perlu dilakukan pembatasan. Tujuannya untuk mendapatkan tema yang lebih spesifik. Tema spesifik dengan pembahasan mendalam dalam dunia ilmiah lebih disukai, dibandingkan dengan pembatasan yang terlalu luas dengan pembahasan yang dangkal.
Pembatasan dapat dilakukan menurut tinjauan tempat, waktu, hubungan sebab akibat, pendekatan, aspek khusus umum, dan menurut obyek formal dan material.
1. Pembatasan menurut tempat
Umumnya menyatakan lingkup geografis tema bahasan untuk dikaji. Tema tentang “Pendidikan Inklusi” dapat dipersempit menjadi “Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat”.
2. Pembatasan menurut waktu
Waktu bisa berarti periode atau zaman. Tulisan tentang “Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat” dapat dipersempit menjadi “Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat pada Masa Orde Reformasi”.
3. Pembatasan menurut hubungan sebab akibat.
Judul tentang “Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat pada Masa Orde Reformasi” dapat dipersempit lagi menjadi “Faktor-faktor Penghambat Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat pada Masa Orde Reformasi”.
4. Pendekatan menurut pendekatan
Pendekatan mengacu pada bidang kehidupan manusia seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, ideologi, kesenian, pendidikan dan sebagainya. Judul tentang “Faktor-faktor Penghambat Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat pada Masa Orde Reformasi” dapat dipersempit menjadi ““Faktor-faktor Penghambat Pendidikan Inklusi di Sumatera Barat pada Masa Orde Reformasi :Tinjauan Sosial Budaya”.
5. Pembatasan menurut aspek umum khusus
Diartikan juga sebagai tinjauan tentang : individual-kolektif, contoh-konsep, riil-abstrak, dan sebagainya. Judul tentang ”Persepsi Lembaga Pendidikan Formal tentang Penerapan Pendidikan Inklusi”, dapat dipersempit menjadi ”Persepsi Kepala Sekolah Reguler tentang Penerapan Pendidikan Inklusi”.
6. Pembatasan menurut objek matirial dan obnjek formal.
Objek material mengacu pada bahan yang dibicarakan sedangkan objek formal mengacu pada sudut dari mana bahan itu akan ditinjau. Misalnya “Kebudayaan Indonesia (Obyek material) ditinjau dari Asal Usulnya (Obyek formal)”.
Pembatasan dilakukan bisa dengan satu aspek ataupun lebih, sesuai dengan pilihan penulis. Setelah pembatasan dilakukan maka judul dapat dibuat. Judul harus seringkas mungkin tetapi tetap menggambarkan ide pokok tulisan. Jika tidak bisa jangan dipaksakan, dilakukan modifikasi dengan membuat judul dan anak judul. Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah mendefenisikan masalah. Langkah ini bertujuan untuk menjelaskan istilah-istilah pokok yang digunakan dalam tulisan. Agar antara penulis dan pembaca memiliki pemahaman yang sama tentang maksud istilah yang ditulis.
Judul tentang “Prevalensi Anak Berkebutuhan Khusus Ditinjau dari Layanan Pendidikan”. Maka harus didefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan : Prevalensi Anak Berkebutuhan Khusus dan dari Layanan Pendidikan. Misalnya tentang istilah anak berkebutuhan khusus yang dipakai apakah menyatakan siapa saja anak yang dinyatakan berkebutuhan khusus atau hanya mereka yang bersekolah atau hanya pada salah satu jenis anak berkebutuhan khusus dan seterusnya.

Langkah ketiga : Merumuskan masalah
Rumusan masalah menyatakan apa yang harus dijawab dalam keseluruhan proses tulisan. Umumnya rumusan masalah mengikuti bentuk sebagai berikut :
1. Masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2. Rumusan hendaknya berbentuk jelas, padat dan mudah dipahami.
3. Rumusan masalah merupakan implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
Sebagai contoh, judul tentang ”Persepsi Kepala Sekolah Reguler tentang Penerapan Pendidikan Inklusi : Studi pada SD-SD di Kec. Pauh Padang”, dapat dibuat rumusan masalahnya : Bagaimanakah persepsi kepala sekolah SD-SD di Kec. Pauh reguler tentang penerapan pendidikan inklusi? Maka kesimpulan akhirnya harus menyatakan persepsi kepala sekolah SD-SD di Kec. Pauh reguler tentang penerapan pendidikan inklusi : begini.

Langkah keempat : Menyusun outline
Setelah merumuskan masalah, penulis mulai mengambil keputusan tentang bagaimana memecahkan masalah yang telah dirumuskan dan menjelaskan dan bagaimana berbagai fenomena berhubungan dengan fenomena yang lain. Outline (kerangka karangan) pada prinsipnya membantu penulis untuk melihat secara global tentang langkah-langkah penyelesaian masalah yang dilakukan. Dengan outline penulis dapat menilai dengan jelas apakah semua materi telah dimasukkan ataukah masih ada yang tertinggal. Outline kemudian dikembangkan lagi lebih detil, bila outline masih dalam bentuk bab maka dikembangkan dalam bentuk sub bab, topik, sub topik, dan seterusnya.
Berdasarkan pada pengembangan materi outline, penulis akan lebih mudah melihat ada tidaknya hubungan logis antara materi yang akan ditulis. Bila ternyata bagian yang satu dengan bagian yang lain belum menyatakan hubungan logis, maka pada bagian ini diperbaiki sampai memperoleh hasil yang diharapkan. Dengan outline yang sempurna berarti tugas berat untuk menulis telah terlewati, tinggal mencari bahan yang relevan untuk mengisinya.

Langkah kelima : Mencari bahan
Sumber bahan sama dengan sumber masalah, yaitu terdapat pada paper, person, place. Cara mudah mencari bahan adalah dengan berpedoman pada outline. Sub-sub topik dalam outline merupakan satuan kecil yang menyatakan bahan apa yang diperlukan untuk menyusun tulisan. Informasi yang diperoleh harus diberi keterangan yang jelas tentang identitas sumber informasinya. Identitas sumber informasi diperlukan agar sipembaca dapat menilai validitas dan reliabilitas informasi yang disampaikan penulis.

Langkah keenam : organisir data
Data yang diperoleh dari berbagai sumber walaupun berpedoman pada penjabaran outline, umumnya masih belum teratur. Untuk itu data yang terkumpul perlu diorganisir, yaitu mengelompokkan, mengklasifikasikan data sesuai derajat validitas dan menyeleksi data yang relevan. Dengan mengorgansir data dapat diketahui apakah bahan yang ada telah cukup menyusun suatu bagian dalam outline atau belum.

Langkah ketujuh : menyusun tulisan
Inti menulis ada disini. Dengan outline yang baik dan didukung bahan yang memadai mestinya kita tidak mengalami kesulitan untuk menulis. Tetapi seringkali muncul kesulitan bagaimana dan darimana harus memulai. Saat mendalami masalah dan membuat outline, sebenarnya telah muncul gagasan yang ingin dituangkan dalam tulisan, sehingga tak perlu ada kesulitan dalam hal ini. Hanya saja diawal menulis kita terjebak dengan aturan tata tulis yang dipandang sebagai sesuatu yang membelenggu.
Tak perlu dirisaukan, cara mengatasinya mudah. Cukup dengan mengemukakan gagasan itu dengan bahasa sendiri. Sudah tentu pokok pembicaraan disesuaikan dengan tema-tema pada outline. Selama masih ada gagasan, terus tuangkan! jangan berhenti sampai gagasan-gagasan tersebut meluncur deras seakan tak pernah habis. Bahan-bahan yang telah diorganisir akan membantu dalam mengembangkan argumentasi, menyusun kalimat, dan paragraf. Syarat bahasa yang digunakan dalam tulisan : harus komunikatif.
Langkah kedelapan : mencetak draft
Menulis karya ilmiah adalah proses penuangan gagasan secara jelas, ringkas, dan tegas dengan bahasa yang mudah dipahami serta memenuhi kaidah ilmiah. Oleh karena itu diperlukan kecermatan walaupun dalam prakteknya sangat sulit bagi pemula untuk dapat menghasilkan tulisan yang sempurna sekali jadi. Hal ini disebabkan oleh persoalan logika berpikir, kelengkapan bahan, dan tata bahasa. Dengan demikian diperlukan pemeriksaan secara cermat pada semua tulisan. Disinilah pentingnya cetak sementara (cetak draf). Teknologi komputer sebagai alat sangat membantu dalam proses ini. Tetapi pada prinsipnya jangan terjebak dengan ketergantungan pada alat sehingga malas untuk memulai menulis.

Langkah Kesembilan : revisi dan susun kembali.
Pemeriksaan tulisan ditujukan pada bagian logika berpikir, kelengkapan bahan, tata bahasa, terutama tata tulis. Dengan cetak draft memudahkan penulis melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Bagian-bagian yang masih kurang ditambah, kesalahan diperbaiki, dan yang lebih dikurangi. Intinya, revisi dilakukan seperlunya saja. Penghalusan bahasa dilakukan juga walaupun harus menggunakan bahasa baku, tetapi dalam penyajiannya jangan sampai kaku sehingga tulisan yang dibuat enak dibaca dan tidak membosankan. Sampai tahap ini boleh dikatakan tulisan sudah jadi.

Catatan Akhir
Diskusi atas materi tulisan ini diharapkan, mengingat pandangan obyektif secara subyektif seringkali menutupi penilaian yang obyektif. Insya Allah bermanfaat. Amiin.

Daftar Bacaan
Creswell, John W. 2002. Educational Research : Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey : Merill Prentice Hall.
Rose, Richard & Grosvenor, Ian. 2001. Doing Research in Special Education : Ideas into Practice. London : David Fulton Publishers.

BIO DATA PENULIS
Marlina. Lahir di Pariaman 2 September 1969. Lulus Diploma dua pada Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) tahun 1990. Memperoleh Sarjana Pendidikan (S.Pd) dari IKIP Yogyakarta Jurusan Pendidikan Luar Biasa tahun 1995. Memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) dengan predikat Cum Laude di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada tahun 2004. Sejak tahun 1998 sampai sekarang menjadi dosen tetap di Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.