Media Pembelajaran Bagi Anak Tunanera, Tunarungu, dan Tunadaksa
Diposkan oleh
romiariyanto
Thursday, October 27, 2011
Media Pembelajaran Untuk Anak Tuna Netra
Seperti yang kita ketahui Anak Tuna Netra mempunyai keterbatasan dalam indera penglihatannya sehingga mereka memerlukan pelayanan khusus serta media pembelajaran yang khusus juga agar mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan mencapai cita-citanya seperti anak-anak normal lainnya.
Salah satu contoh media pembelajran bagi tuna netra adalah tulisan Braille serta buku-buku yang ada tulisan braillenya agar anak dapat belajar secara maxsimum. Dalam pembelajaran bahasa indonesia anak memakai tulisan Braille dan pada saat membaca juga mempergunakan buku yang ada tulisan braillenya, sedangkan dalam pembelajaran IPA anak diberikan miniatur binatang untuk menambah pengetahuan anak dan menyamakan persepsi mereka namun dalam hal ini guru juga harus menjelaskan bahwa miniatur tersebut adalah bentuk kecil dari binatang yang sedang pelajari.
Dalam pembelajaran IPS, misalnya dalam penggunaan Peta, Peta yang digunakan untuk anak Tuna Netra adalah peta timbul agar anak dapat merabanya dan mengetahui apa dan dimana letak suatu pulau. Selain itu dengan meraba peta timbul dan menerima sensasi raba, siswa diharapkan akan lebih memahami pelajaran yang diberikan, karena mereka telah mengalami perabaan pada media tersebut. Pengalaman tersebut akan lebih mudah tersimpan dalam memori siswa tunanetra.
Dalam pembelajaran Kesenian, anak juga disuruh meraba bentuk-bentuk alat musik yang telah disediakan serta guru menejaskan nama dan cara penggunaan alat musik tersebut dan not-not yang dipergunakan dalam bermain musik juga menggunakan not Braille.
Sedangkan dalam pembelajram Matematika saat mempelajari tentang konsep bangun ruang, anak disuruh meraba bentuk bangun ruang yang telah disediakan oleh guru. Tujuan media ini agar anak mengetahui bentuk bangun ruang juga mengetahui berapa jumlah sisi yang ada pada masing-masing bangun ruang.
Jadi, baik dalam teori maupun yang ada dilapangan, media yang digunakan untuk Anak Tuna Netra lebih spesifik atau lebih mengutamakan media yang bisa mereka raba guna menyamakan persepsi mereka.
Media Pembelajaran Untuk Anak Tuna Rungu
Anak Tuna Rungu memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, media pembelajaran yang cocok untuk Anak Tuna Rungu adalah media visual dan cara menerangkannya dengan bahasa bibir/gerak bibir.
Media pembelajaran yang dapat digunakan untuk Anak Tuna Rungu dalam sebuah makalah yang berjudul “Media Pembelajaran Bina Komunikasi
Persepsi Bunyi Dan Irama ( BKPBI) adalah sebagai berikut:
Media Stimulasi Visual
a. Cermin artikulasi, yang digunakan untuk mengembangkan feed back visual, dengan melihat/ mengontrol gerakan organ artikulasi diri siswa itu sendiri, maupun dengan menyamakan gerakan/ posisi organ artikulasi dirinya dengan posisi organ artikulasi guru.
b. Benda asli maupun tiruanc. Gambar, baik gambar lepas maupun gambar kolektif.
d. Pias kata
e. Gambar disertai tulisan, dsb.
Media Stimulasi Auditoris
a. Speech Trainer, yang merupakan alat elektronik untuk melatih bicara anak dengan hambatan sensori pendengaran
b. Alat musik, seperti: drum, gong, suling, piano/organ/ harmonika, rebana, terompet, dan sebagainya.
c. Tape recorder untuk memperdengarkan rekaman bunyi- bunyi latar belakang, seperti : deru mobil, deru motor, bunyi klakson mobil maupun motor, gonggongan anjing dsb.
d. Berbagai sumber suara lainnya , antara lain : • Suara alam : angin menderu, gemercik air hujan, suara petir,dsb.
• Suara binatang : kicauan burung, gongongan anjing, auman harimau, ringkikan kuda,dsb.
• Suara yang dibuat manusia : tertawa, batuk, tepukan tangan, percakapan, bel, lonceng, peluit, dsb.
e. Sound System, yaitu suatu alat untuk memperkeras suara.f. Media dengan sistem amplifikasi pendengaran, antara lain ABM, Cochlear Implant dan loop system.
Di lapangan media yang digunakan,misalnya dalam mata pelajaran matematika dengan tema mengenalkan jam,guru membawa tiruan jam dinding sambil menerangkan dengan bahasa bibir guru juga menuliskannya di papan tulis agar anak dapat lebih memahami apa yang guru jelaskan. Dalam pembelajaran IPA, PPKN, Guru juga mempergunakan gambar. Dalam pembelajaran IPS pun demikian, menggunakan media gambar dalam materi kenampakkan dari permukaan bumi dari gambar tersebut guru menjelaskan kepada anak sehingga anak dapat memahami bagaimana bentuk kenampakkan dari permukaan bumi tersebut.
Media Pembelajara Untuk Anak Tuna Daksa
Anak Tuna Daksa dari segi mental dan otaknya normal hanya saja mereka memiliki keterbatasan fisik sehingga memerlukan layanan khusus dan alat bantu gerak , agar mereka bisa melakukan aktifitas sehari-hari tanpa adanya bantuan dari orang lain. Media pembelajaran yang digunakan untuk anak tuna daksa sama dengan anak-anak normal lainnya hanya saja disesuaikan dengan materi dan kecacatan bagian yang mana dialami oleh anak. Agar terciptanya proses belajar mengajar yang kondusif.
14
komentar
Intelegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
cara belajar bayi
manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk belajar. Bayi belajar dari dari apa yang mereka lihat, dengar, cium, raba, dan kecap. Dengan menggunakan daya pikirnya bayi dapat membedakan rangsangan yang dating dari berbagai panca indra.
teori perkembangan intelektual menurut j. piaget pada masa bayi
menurut j. piaget perkembangan berfikir bayi berada pada periode sensomotorik dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun.
Tahap pertama 0-1 bulan, disebut tahap modifikasi berbagai reflek. Pada tahap ini bayi memperkuat, merealisasikan dan membadakan tingkah laku yang berawal dari reflek atau skema.
Tahap kedua 1-4 bulan pada tahap ini perilaku mengulang- ulang sehingga membentuk kebiasan, misalnya mengisap jari.
Pada usia 4-8 bulan pada tahap ini bayi merespon rangsangan dari luar, sepeti bunyi kerincing.
Usia 8-12 bulan anak berada pada tahap koordinasi skema, anak telah mampu mengkombinasikan beberapa skema kedalam bentuk yang sangat majemuk.
Usia 12-18 bulan pada tahap ini anak senang bereksperiman dengan lingkungan serta anak menyukai benda-benda yang punya potensi untuk di manfaatkan.
Pada usia 18-24 bulan anak berfikir sebelum berbuat. Eksplorasi eksternal pada masa ini akan memberikan jalan bagi eksplorasi mental yang bersifat internal.
cara belajar bayi
manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk belajar. Bayi belajar dari dari apa yang mereka lihat, dengar, cium, raba, dan kecap. Dengan menggunakan daya pikirnya bayi dapat membedakan rangsangan yang dating dari berbagai panca indra.
teori perkembangan intelektual menurut j. piaget pada masa bayi
menurut j. piaget perkembangan berfikir bayi berada pada periode sensomotorik dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun.
Tahap pertama 0-1 bulan, disebut tahap modifikasi berbagai reflek. Pada tahap ini bayi memperkuat, merealisasikan dan membadakan tingkah laku yang berawal dari reflek atau skema.
Tahap kedua 1-4 bulan pada tahap ini perilaku mengulang- ulang sehingga membentuk kebiasan, misalnya mengisap jari.
Pada usia 4-8 bulan pada tahap ini bayi merespon rangsangan dari luar, sepeti bunyi kerincing.
Usia 8-12 bulan anak berada pada tahap koordinasi skema, anak telah mampu mengkombinasikan beberapa skema kedalam bentuk yang sangat majemuk.
Usia 12-18 bulan pada tahap ini anak senang bereksperiman dengan lingkungan serta anak menyukai benda-benda yang punya potensi untuk di manfaatkan.
Pada usia 18-24 bulan anak berfikir sebelum berbuat. Eksplorasi eksternal pada masa ini akan memberikan jalan bagi eksplorasi mental yang bersifat internal.
Hambatan dalam perkembangan sensorik emosi masa bayi
Bayi basanya marah karena secara fisik ia merasa tidak nyaman, dihambat untuk bergerak, dimandikan atau dipakaikan baju .selain itu bayi juga bias marah bila ia kurang mendapat perhatian.hal yang membuat bayi takut adalah suara sura keras, ruangan yang gelap, dipindahkan dari tempatnya secara tiba-tiba, ditinggal sendiri serta wajah dan tempat yang asing baginya.
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Teori dan Konsep (yang mendukung variabel Penelitian)
1...........................
2. ..........................
3. .........................
dst..............................
Definisi Konsepsional
Operasionalisasi Variabel
Hipotesis
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel
Teknik Pengumpulan Data
Alat Pengukur Data
Teknik Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
CONTOH SISTEMATIKA PROPOSAL SKRIPSI
(Penelitian Kuantitatif)
HUBUNGAN ANTARA KINERJA ORGANISASI DENGAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KANTOR KECAMATAN SAMARINDA ILIR
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Teori Dan Konsep
a. Kinerja Organisasi
a. Pengertian Organisasi
b. Manajemen Organisasi
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Organisasi
1). Faktor Internal
2). Faktor Eksternal
2. Pelayanan Publik
a. Pegawai Sebagai Abdi Masyarakat
b. Jenis Pelayanan Publik
c. Pelayanan Prima
d. Pelayanan Berorientasi Keadilan
Definisi Konsepsional
Operasionalisasi Variabel
Hipotesis
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel
Teknik Pengumpulan Data
Alat Pengukur Data
Teknik Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN











