Blogs That Discuss About The World Of Education, Special Education Was Exceptional

Powered by Blogger.
.

MODUL : PENERAPAN TEKNIK MODIFIKASI PERILAKU PADA ANAK ADHD

Diposkan oleh romiariyanto Friday, January 14, 2011

Oleh : Marlina, S.Pd. M.Si.
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA,FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG,2008

A. Teknik Peniruan Melalui Model
1. Pengertian
Tokoh yang banyak melakukan penelitian tentang peniruan melalui model ini adalah Bandura. Berdasarkan hasil temuannya tersebut Bandura menghasilkan suatu teori yang diberi nama Social Learning Theory atau Teori Belajar Sosial.
Bandura menjelaskan bahwa teori belajar sosial merupakan teori, pendekatan yang menjelaskan bahwa perilaku manusia itu merupakan hasil interaksi terus menerus antara kognitif, behavioral dan lingkungan sebagai penentu. Perilaku merupakan produk dari interaksi timbal balik antara person dan lingkungan (Bandura, 1997). Salah satu teori belajar sosial yang dikemukakan Bandura adalah ”Belajar Model”. Ada beberapa istilah yang muncul sehubungan dengan belajar model ini, yaitu modelling (tokoh model), imitasi (peniruan) dan observational learning atau belajar melalui pengamatan (Bandura, 1977).
Selanjutnya Bandura mengatakan bahwa belajar dapat terjadi melalui model. Ia menekankan teknik modelling ini untuk mengubah perilaku. Belajar model adalah proses belajar melalui imitasi dengan cara mengamati model atau tokoh yang menjadi idolanya sehingga akan terbentuk perilaku yang baru. Seorang individu dapat memperoleh banyak kemajuan dan memiliki harapan baru ketika inidvidu tersebut mengetahui model yang mewakilinya mengalami kesuksesan. Berikut ini disajikan contoh perilaku hiperaktif anak sekolah.
Seorang anak hiperaktif yang ada di sekolah dasar, memiliki perilaku yang tidak menyenangkan, membosankan dan menjengkelkan. Teman-temannya tidak menyukai dan selalu menolak untuk berteman dengannya. Guru di sekolah merupakan tokoh model yang perilakunya akan ditiru oleh teman-temannya (pada waktu anak di rumah tokoh modelnya adalah orangtua, menginjak usia sekolah tokoh modelnya adalah guru, setelah remaja atau dewasa tokoh modelnya adalah tokoh-tokoh masyarakat yang ada disekitarnya). Adapun langkah-langkah penerapan teknik peniruan melalui model ini adalah sebagai berikut.

2. Langkah-langkah Penerapan Peniruan Melalui Model
a. Guru memahami siapa anak hiperaktif.
b. Guru sengaja bersikap baik pada anak yang mengalami hiperaktif, kemudian guru mengenalkan kepada teman-temannya, atau anak-anak lain yang ada di kelas atau di sekolah tersebut, tentang kelebihan dan kekurangan anak hiperaktif tersebut.
c. Mengembangkan presepsi yang positif siswa kepada anak hiperaktif. Bahwa anak hiperaktif ini anak yang mengalami gangguan (sakit) perlu kasih sayang, dibantu penyembuhan (ditolong) bukan dibenci.
d. Kemudian guru menerangkan pada murid-muridnya bagaimana harus bersikap pada anak hiperaktif (seperti dipegangi apabila tidak mau diam, dicintai dengan memberikan teguran-teguran dan kasih sayang sesama teman). Guru memberikan contoh bagaimana bersikap pada anak hiperaktif secara langsung, pada waktu anak di kelas, jam istirahat dan pada waktu anak bermain. Murid-murid akan mencontohkan perilaku guru terhadap anak hiperaktif.
e. Setiap perubahan yang terjadi diberikan penguat reinforcement oleh guru atau teman-temannya. Misalnya diizinkan ikut dalam permainan. Lama-kelamaan dengan bantuan teman-temannya dan guru anak hiperaktif dapat mengubah perilakunya.
B. Teknik Kondisioning Aktif (Operant Conditioning)
1. Pengertian
Operant Conditioning merupakan ilmu yang mempelajari perilaku berdasarkan eksperimen. Operant Conditioning menunjukkan suatu proses modifikasi unit-unit perilaku alih peristiwa-peristiwa yang mengikuti perubahan tersebut. Pendekatan ini ditandai dengan analisis yang bersifat deterministik dan eksperimental suatu perilaku. Selain itu juga ditandai oleh adanya konsentrasi (pemusatan) pada suatu perilaku operant (respon). Walaupun demikian pendekatan ini tidak mengabaikan perilaku yang bersifat intrinsik dan refleksif. Penggunaan pendekatan ini hanya untuk perilaku yang dapat diamati, diukur dan direproduksi kembali. Peranan lingkungan banyak menentukan dalam perubahan perilaku. Pendekatan kondisioning aktif telah menunjukkan bagaimana perilaku dapat dikontrol oleh lingkungan dan lingkungan dapat digambarkan secara obyektif dan terperinci.
Berdasarkan uraian tersebut maka ada dua hal pokok dalam pendekatan kondisioning aktif, yaitu perilaku dan lingkungan. Perilaku dalam pengertian operant ini adalah segala sesuatu yang dikerjakan oleh inidvidu. Hampir semua perilaku seperti lari, bicara, berpikir, dan aktivitas lain yang dapat diamati. Lingkungan dalam pengertian ini adalah formula yang menyangkut segala sesuatu yang mempunyai efek terhadap individu, baik dengan segera atau tidak. Lingkungan melibatkan inidvidu itu sendiri, karena penentu perilaku saat ini adalah mungkin perilaku sebelumnya. Kejadian yang mengikuti hanya peristiwa lingkungan sebagai konsekuensi peristiwa yang mengikutinya.
Dalam kondisioning aktif ini penekanannya diberikan kemungkinan (probabilitas) terjadinya suatu perilaku. Pengertian probabilitas adalah frekuensi terjadinya perilaku di bawah kondisi lingkungan tertentu. Tujuan utama kondisioning aktif adalah meramalkan dan memanipulasi terjadinya suatu perilaku tertentu di bawah satu kondisi lingkungan tertentu. Sehingga salah satu urutan terpenting pada pendekatan operant ini adalah tingkat terjadinya perilaku di bawah kondisi tertentu.
Di dalam kondisioning aktif, bahwa suatu perilaku terjadi tersusun dari unit-unit yang disebut respon. Di samping itu lingkungan tersusun juga dengan berbagai unit-unit. Konsep yang paling mendasar pada pendekatan ini adalah semua perilaku tidak perlu dipaksakan dari individu oleh lingkungan.
Pendekatan kondisioning aktif lebih menekankan pada pemberian sejumlah reinforced dan respon. Perilaku yang dapat dipengaruhi oleh pendekatan ini seperti berbicara, tersenyum, bekerja, membaca, dan perilaku lainnya. Jenis terapi dengan pendekatan kondisioning aktif ini juga dapat digunakan untuk mengurangi perilaku mal-adjusted, agresif, hiperaktif dan perilaku yang lain.
2. Langkah-langkah Penerapan Teknik Kondisioning Aktif
Suharmini (2005) menjelaskan langkah-langkah penanganan anak hiperaktif dengan menggunakan pendekatan operant conditioning, yaitu :
a. Pahami perilaku hiperaktif. Perilaku yang sering dilakukan seperti :
1) Tidak mampu berkonsentrasi.
2) Kurang control dalam berperilaku dan berbicara.
3) Aktivitas sangat tinggi tanpa tujuan.
4) Agresif, seperti memukul dan mengganggu teman.
5) Tidak mau mengerjakan tugas-tugas dari guru.
6) Tidak mau mengikuti aturan yang dibuat sekolah.
b. Tentukan perilaku, aktivitas atau keterampilan yang akan diubah, misalnya:
1) Tidak mau duduk.
2) Tidak mau mendengarkana ketika guru berbicara.
3) Keluar masuk kelas, dan sebagainya.
c. Membagi perilaku yang akan diubah dalam unit-unit kecil.
d. Tentukan reinforcement.
e. Ubahlah atau ajarkan perilaku per bagian secara sistematik, terstruktur dan dapat dinilai.
f. Berikan bimbingan (bantuan + reinforcement), sedikit demi sedikit bantuan tersebut ditiadakan. Pada anak hiperaktif perlu sikap tegas dan disiplin dari guru. Pemberian reinforcement bisa negatif dan positif tergantung kondisi anak. Reinforcement positif misalnya : memberi kasih sayang, acungan jempol, memangku, memberi sesuatu yang disukai anak tetapi tidak membawa dampak negatif pada anak. Reinforcement negatif misalanya : menarik tangan, menginjak kaki (tanpa menimbulkan sakit) setiap anak akan pergi dari tempat duduk, melarang dengan tegas apabila anak melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki dan sebagainya. Reinforcement pada anak hiperaktif sangat subyektif, masing-masing anak tidak sama. Pada anak hiperaktif rangsangan taktil yang berpa sentuhan sangat berarti dan berpengaruh terhadap perilaku anak.
g. Terus menerus dilakukan sampai aktivitas yang dikehendaki terwujud. Apabila aktivitas dikehendaki terwujud, maka hentikan reinforcement. Apabila setelah dihentikan perilakunya mengarah kembali ke perilaku semula berikan lagi reinforcement, sampai perilaku yang dikehendaki benar-benar menjadi kuat.
C. Kondisioning Melalui Penolakan
1. Pengertian
Kondisioning melalui penolakan ini dapat dilakukan melalui latihan asertif atau latihan keterampilan sosial. Perilaku asertif adalah perilaku antar personal yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku asertif dilakukan dengan mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain.
Singgih D. Gunarso (1992) menyatakan perilaku asertif digolongkan pada tiga kategori, yaitu :
1. Asertif penolakan
Dapat dilakukan dengan halus seperti maaf. Pada anak hiperaktif guru dapat melakukan dengan ucapan tegas, seperti jangan, tidak boleh. Pada anak itu sendiri dapat dilatihkan dengan mengatakan “maaf saya tidak mau”, dan seterusnya.
2. Asertif pujian
Ditandai oleh kemampuan untuk mengekspresikan perasaan setuju, cocok, senang, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur.
3. Asertif permintaan
Merupakan latihan meminta orang lain melakukan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tanpa tekanan atau paksaan. Latihan asertif ini cocok untuk menangani masalah perilaku hiperaktif dan perilaku agresif yang sering ada pada anak hiperaktif.
Robert (1975) menyatakan salah satu cara untuk mengurangi perilaku hiperaktif adalah dengan latihan asertif. Corey (1991) menyatakan latihan asertif dapat dilakukan pada anak-anak yang :
a. Mengalami kesulitan untuk mengatakan “tidak”.
b. Tidak dapat mengekspresikan perasaan marah atau tersinggung.
c. Kesulitan mengekspresikan perasaan dan respon-respon yang positif.
d. Terlalu sopan.
e. Merasa tidak dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran.
Guru, orangtua dan terapis dalam pendekatan ini harus bersikap tegas juga jika harus mengatakan tidak maka katakan tidak. Dalam pendekatan ini anak diajak untuk berpikir bagaimana mengndalikan diri. Strategi perilaku yang dapat digunakan dengan mengatakan secara verbal tentang aturan atau keharusan yang dapat dilakukan. Seperti “saya harus bekerja selama 5 menit”. Dalam waktu 1 menit harus sudah selesai. Pada pendekatan ini anak hiperaktif diminta untuk menggambar garis-garis atau lingkaran-lingkaran kecil.
2. Langkah Penerapan Teknik Kondisioning Melalui Penolakan
D’Allonzo (1996) mengemukakan pelaksanaan penggunakan teknik kondisioning melalui penolakan sebagai berikut :
a. Beri bantuan anak dan sejumlah reinforcement untuk mengarah ke perilaku atau berperilaku sesuai dengan tugas yang diberikan.
b. Sebelum anak masuk ke dalam suatu kelompok bersama-sama teman lainnya, maka diskusikan telebih dahulu dengan anak tentang identifikasi perilaku-perilaku yang dapat dilakukan.
c. Sikap tegas, perhatian yang khusus dan kualitas potensi kepemimpinan guru ditunjukkan baik pada anak hiperaktif serta anak-anak lain yang ada di dalamnya. Beri reinforcement, dengan cara ini dapat menghilangkan perilaku-perilaku negatif.

D. Perilaku Hiperaktif yang Akan Dikurangi
1. Kelebihan Gerak
Anak ADHD dikarakteristikkan dengan kelebihan gerak, tanpa sejumlah aktivitas anak menjadi sangat lamban bahkan ada yang tertidur di kelas. Umumnya aktivitas gerak tersebut cenderung banyak berbicara, gelisah, berpindah tempat duduk (lebih sedikit perilaku sosialnya). Ketika berperilaku tidak sesuai seperti mengoceh, berpindah-pindah, dan berperilaku jelek, membuat mereka menjadi senang di kelas, sehingga perilaku berlebihan tersebut cenderung membentuk perhatian negatif dan sering menghindari tugas yang sulit. Kelebihan gerak ini dapat terjadi begitu saja, sehingga harus dilayani lebih fleksibel.
Westwood (1995) langkah penanganannya sebagai berikut:
a. Mengatur dan membatasi aktivitas untuk menjaga kestabilan perilaku.
b. Membuat aturan tentang suatu signal di depan kelas sebagai tanda kapan anak harus diam dan kapan harus bicara.
c. Menentukan konsekuensi khusus bagi anak yang melanggar seperti; tidak boleh istirahat, kehilangan poin, kehilangan boneka, tiket dan sebagainya.
d. Menggunakan teman sebaya yang patuh sebagai model penguatan.
e. Sering bertanya kepada anak yang suka berbicara, misalnya; siapa yang meninggalkan tempat duduk, apa yang harus dikerjakan saat pindah?
f. Memberi pujian pada anak yang diam dan memberi hukuman bagi anak yang berbicara atau suka meninggalkan tempat duduk.
g. Memperlonggar aturan atau mengurangi pekerjaan dalam menjaga kontrol diri dari perilaku suka berpindah-pindah.
h. Mengintegrasikan aktivitas belajar saat duduk bekerja dengan menyuruh anak berdiri untuk mengulang matematika dan secara acak meminta murid yang lain. Ini akan membantu menjaga perhatian gerak-geriknya.
i. Mengajarkan anak agar lebih sadar dengan kebutuhannya dengan bergantian pada anak lainnya.

2. Menjawab Tanpa Berpikir
Jika guru mengajukan pertanyaan, anak-anak ADHD biasanya langsung mengangkat tangan dan menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu. Respon impulsif seperti ini merupakan karakteristik khas anak ADHD. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki kontrol perilaku.
DuPaul & Stoner (1994) menyarankan langkah-langkah penanganannya, yaitu:
a. Ingatkan dan tekankan pada anak bahwa aturan menaikkan tangan adalah jika meminta izin (permisi), menjawab pertanyaan, memberi bantuan, pergi ke kamar mandi dan sebagainya.
b. Mengabaikan anak yang asal menjawab dan memberi kesempatan pada anak yang mengangkat tangan.
c. Menghargai anak yang mengangkat tangannya dan menggunakan ia sebagai model. Jangan membandingkan anak yang satu dengan yang lain, beri penghargaan kepada anak yang mengerjakan dengan benar. Buat penghargaan khusus, seperti” Toni kamu ikuti aturan dan angkat tanganmu jika ingin menjawab ‘ Bagus! Sekarang apa.... ?”
d. Ketika anak menaikkan tangannya beri tanggapan dengan segera.
e. Jumlah anak yang menaikkan tangan untuk menjawab dimonitor setiap hari.
f. Hargai perbaikan mingguan setiap anak dan yang mencapai prestasi lebih dari minggu-minggu sebelumnya.
3. Meninggalkan Tugas
Anak ADHD lebih cepat tersita perhatiannya pada tugas yang menarik, dan rasa bosan bisa terjadi jika ada hal lain lebih menarik. Ada beberapa cara untuk mencegah anak tidak meninggalkan tugas, Flick (1988) menjelaskannya sebagai berikut:
a. Mengatur tempat duduk anak agar suatu isyarat mudah disampaikan dan mudah memonitor pekerjaan anak.
b. Penguatan positif diberikan pada anak. Anak yang memberikan respon positif diberikan pujian baik lisan maupun perbuatan agar mereka dapat melanjutkan tugasnya.
c. Penguatan diberikan juga kepada anak yang menyelesaikan tugas. Hal ini menunjukkan bahwa menyelesaikan tugas merupakan suatu keharusan.
d. Tugas dibagi menjadi bagian-bagian kecil untuk membantu anak-anak ADHD. Tujuannya untuk mengetahui berapa lama anak bisa bertahan dalam tugas, berapa banyak masalah yang dihadapi anak, dan bagaimana anak bisa berhasil menyelesaikan tugasnya.
e. Katakan ‘oke’ untuk membantu anak bertanya atau mengekpresikan frustasi yang ia rasakan. Anak-anak yang meninggalkan tugas sebagian besar karena mereka menemui halangan secara mendadak (misalnya perkerjaan tersebut sangat sulit atau tidak dipahami). Untuk itu anak harus dapat mengkomunikasikannya dan dapat melanjutkan pekerjaannya.
f. Gunakan papan tulis pribadi dan beri ruang isolasi untuk pekerjaan tertentu atau untuk belajar sendiri.
g. Rencanakan keterlibatan aktif anak dalam belajar untuk mengurangi gangguan (kelebihan gerak).
h. Guru dapat menggunakan kartu pengingat yang ditempel di meja atau buku catatan. Pesan dapat dibuat: “Apakah saya tidak mengikuti?” atau “Apakah saya mengganggu guru?”. Kartu pengingat ini dibuat lebih sederhana yang memiliki isyarat perilaku yang sesuai.
4. Keterampilan Memperhatikan Teman Sebaya
Sulit mendengar, sulit mengikuti instruksi dan sulit berkonsentrasi merupakan masalah anak-anak ADHD. Dasar kesulitan ini adalah keterampilan memperhatikan teman sebaya. Langkah-langkah latihan keterampilan memperhatikan teman sebaya menurut DuPaul & Stoner (1994) yaitu :
a. Anak dilibatkan secara aktif dalam proses belajar. Nama anak dipanggil secara acak agar ia aktif ikut dalam proses belajar.
b. Materi yang digunakan menarik dan terencana sesuai dengan keadaan anak-anak ADHD.
c. Gunakan pertanyaan-pertanyan yang lebih sederhana dan lebih baik dalam memberikan informasi.
d. Identifikasi serangkaian informasi aktual agar anak tetap memperhatikan.
e. Ulangi informasi penting dan terkini dalam bentuk yang berbeda (baik lisan maupun tulisan).
f. Cetak informasi dalam kertas berwarna, tulis di papan dengan kapur warna dan gunakan kertas berwarna untuk membantu memusatkan perhatian.
g. Gunakan rekaman perintah yang disalurkan dengan headphone untuk memulai pekerjaan. Hal ini penting untuk menstimulasi kognitif guna memberi isyarat agar anak bekerja.
h. Berikan penguatan sesering mungkin seperti pujian, sentuhan dibahu, dan kata-kata ”dengarkan baik-baik, kamu harus menjawab” dan sebagainya.
i. Gunakan sesuatu yang baru untuk menarik perhatian anak. Anak ADHD seperti halnya pada anak lainnya dapat merespon atau beraksi terhadap situasi atau sesuatu hal yang baru.
j. Agar anak tetap fokus pada masalah maka poin-poin perintah ditampilkan dengan grafik melalui overhead projector sebagai tampilan bahan yang akan didiskusikan.
k. Gunakan isyarat khusus yang menunjukkan dimana dan kapan perhatian anak diminta.
5. Tidak Menyelesaikan Pekerjaan
Masalah ini sangat erat hubungannya dengan meninggalkan tugas. Jika anak meninggalkan tugas dalam waktu tertentu, berkemungkinan ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya baik di kelas atau di rumah. Masalah ini dapat diselesaikan dengan membangun kebiasaan mengerjakan tugas sendiri di kelas dan di rumah dengan benar. Bagaimanapun juga menjaga kebiaasan bekerja dengan baik dan konsisten akan menentukan keberhasilan menyelesaikan pekerjaan tahap selanjutnya. Yang perlu diingat, anak ADHD memiliki berbagai masalah dalam hal merencanakan, menyusun dan memperhitungkan waktu. Adapun langkah-langkah agar anak dapat menyelesaikan pekerjaannya, menurut Westwood (1995) adalah sebagai berikut.
a. Ikuti dan kontrol tugas-tugas yang diterima. Tegaskan apa yang harus dikerjakan anak dengan menanyakan tugas kelasnya atau melihat sistem monitoring tugas rumah.
b. Ajarkan anak untuk memonitoring diri tentang bagaimana merencanakan dan mengorganisasi tugas.
c. Ajarkan cara memonitoring diri tentang tahapan mencapai tujuannya. Caranya dengan membuat sub tujuan, time skedule, cara menandai berhasil atau belum dalam skedule. Gunakan penguatan positif jika ia menyelesaikan salah satu sub tujuan.
d. Memberikan reminder berkala, sehingga anak yakin menyelesaikan tugasnya.
6. Bimbang Menerima Instruksi (Perintah)
Masalah ini berkaitan dengan perhatian, jika perhatian anak bimbang selama penyampaian instruksi, ada keterputusan proses informasi yang menyebabkan kebingungan. Langkah-langakah mengatasi kebingungan dalam menerima instruksi, menurut (Flick, 1998) adalah:
a. Perintah untuk setiap tugas dibuat sederhana, singkat dan jelas.
b. Instruksi disusun secara terencana, bertahap dan tidak perlu kompleks, serta sediakan hadiah (penguatan) untuk menyelesaikan setiap tahap
c. Bimbing anak dalam menulis dan berbicara, kemudian tuliskan perintah.
d. Yakin” bahwa intruksi di terima. Gunakan seseorang yang terbiasa memberi intruksi dengan benar, kemudian sediakan pujian jika ia mengerjakan tugas dengan benar. Jangan mempermalukan anak didepan kelas karena kebingungannya tersebut.

7. Disorganisasi
Anak ADHD biasanya tidak teratur (kacau), impulsif, ceroboh, mengganggu teman sebaya, bimbang dan sering lupa dengan tugas. Akibatnya, anak gagal menyelesaikan semua tugas karena kesalahan interprestasi apa yang dibutuhkan dengan menyelesaikan tugas atau kalaupun tugasnya selesai, anak lupa membawanya ke sekolah. Langkah untuk mengatasi disorganisasi menurut (Du Paul & Stoner, 1994) adalah:
a. Beri anak contoh model perilaku yang baik untuk membangun. Seperti dalam duduk baik di kursi, merencanakan pelajaran dan kegiatan, rutinitas menempatkan bahan, perlengkapan dan buku-buku di kelas.
b. Menyusun tugas dan meriviu secara lisan untuk membantu teman dalam menyalin tugas.
c. Gunakan sistem ‘belajar membantu teman”, sehingga anak dapat sekaligus mengecek tugas rumah, menulis tanggal dan seterusnya siap melakukan tugas rumah.
d. Jika memungkinkan, libatkan orangtua dan gunakan Lembar Tugas Rumah (LTR).
e. Dikelas Lembar Tugas Rumah diperiksa dan di paraf bahwa anak telah mengerjakan dengan benar.
f. Minta kepada orangtua mengawasi dalam menyelesaikan tugas rumah dan menandatangani LTR tersebut.
g. Beri anak konsikuensi negatif jika ia mengabaikan tahapan tugas.
h. LTR dapat juga digunakan untuk mengembangkan berbagai latihan rutin dan membiasakan monitoring diri dalam bekerja.
i. Anak dapat menggunakan kalender untuk menandai ada tugas LTR dan tugas khusus.
j. Tekankan anak untuk mengikuti aturan.
k. Sertakan partisipasi orangtua.
8. Tulisan Tangan Jelek
Anak ADHD sering juga memiliki tulisan tangan jelek. Huruf yang digunakan berbeda-beda dari yang besar hingga yang kecil. Dalam kasus ini anak bekerja tidak rapi karena terganggu dengan sifat impulsifnya. Langkah-langkah memperbaiki tulisan tangan jelek dinyatakan DuPaul & Stoner (1994) sebagai berikut:
a. Sediakan contoh tulisan pada setiap anak. Tugas menulis dapat diberikan dari berbagai tipe dan ukuran..
b. Gunakan kertas grafik dan kertas komputer dalam menentukan masalah koordinasi, khususnya membantu anak dalam memulai menulis dengan huruf indah yang besar.
c. Bantu anak menulis dengan pendekatan media kognitif. Dengan mengajak bicara perlahan dan memusatkan perhatiannya pada tulisannya secara detail. Hal ini dapatmengatur dalam proses menulis anak.
d. Berikan penguatan (pujian) kepada anak yang mengerjakan dengan rapi.
e. Jika anak dapat menulis dengan lebih baik minta ia untuk mengulanginya pada kertas kosong.
f. Lebih fleksibel terhadap anak disgrafia, berikan latihan menulis sebanyak-banyaknya karena dapat memperbaiki tulisannya yang jelek. Teknik ini disebut “bypass strategies”.
9. Masalah Pekerjaan Rumah
Langkah-langkah menyelesaikan masalah tugas rumah, dinyatakan Flick (1988) sebagai berikut :
a. Berkoordinasi dengan orangtua menggunakan Lembar Tugas Rumah untuk memeriksa tugas rumah.
b. Tulis tugas di papan tulis dan ulangi secara lisan.
c. Kembangkan rangkaian tugas lanjutan dengan persetujuan orangtua.
d. Beri tugas individu untuk anak yang juga memiliki gangguan belajar membaca, berbicara, matematika atau menulis.
e. Jika malas memeriksa tugas, jawaban dapat ditulis dan dipecahkan bersama di kelas.

10. Masalah Keterampilan Sosial
Meskipun masalah hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada anak ADHD, tetapi sering kesulitan tersebut terjadi di kelas inklusi. Anak-anak ADHD cenderung memiliki masalah impulsif, suka melanggar aturan, tidak toleran dan terlalu agresif. Dalam masyarakat ia memiliki masalah dengan hukum, interaksi dan instruksi sederhana dalam bermain. Masalah sekolah anak-anak ADHD tidak hanya berkaitan dengan perilaku di kelas tetapi juga aktivitas lain yang berkaitan dengan sekolah. Flick (1988) menyatakan langkah-langkah mengatasi masalah keterampilan sosial yaitu :
a. Menjelaskan kembali aturan yang berkaitan dengan aktivitas sekolah.
b. Meriviu konsekuensinya jika melanggar aturan. Konsekuensi dan aturan harus diulang-ulang setiap hari, khususnya di awal tahun ajaran baru.
c. Menyertakan “kartu laporan perilaku’ pada saat istirahat, makan siang atau di bus sekolah.
d. Menekankan pada perilaku yang lebih sesuai.
e. Menyusun aktivitas bermain yang terdiri dari aktivitas yang seharusnya terjadi kemudian menghadapi perilaku yang lebih sesuai.

  1. Anonymous Says:
  2. sangat informatif sekali :)

     
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

PEMBACA YANG BAIK ADALAH PEMBACA YANG MAMPU MEMBERIKAN MASUKAN DAN KOMENTAR