Blogs That Discuss About The World Of Education, Special Education Was Exceptional

Powered by Blogger.
.

Kemampuan Memakai Baju Berkancing Anak Tunagrahita

Diposkan oleh romiariyanto Saturday, December 25, 2010

ABSTRAK

April Narni (2009): Meningkatkan Kemampuan Memakai Baju Berkancing dengan Metode Demonstrasi pada Anak Tunagrahita Sedang Kelas D.I Di SLB Negeri Pembina Pekanbaru.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang nampak di lapangan pada dua orang anak tunagrahita sedang kelas D.I di SLB Negeri Pembina Pekanbaru, yang mengalami kesulitan dalam memakai baju berkancing. Hal ini terlihat dari kemampuan awal anak dalam memakai baju berkancing yaitu anak HM dan JK kesulitan dalam merapikan letak kerah dan memasang kancing ke lobang kancing.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam memakai baju berkancing melalui metode demonstrasi. Metode demonstrasi merupakan salah satu metode di mana guru memperagakan suatu proses kegiatan di depan anak didik, setelah memperhatikan demonstran tersebut anak didik melakukan kegiatan sama seperti yang didemonstrasikan. Peragaan ini bertujuan agar anak dapat memahami suatu konsep pengajaran dalam melakukan suatu keahlian/keterampilan melalui pengalaman langsung. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan dalam bentuk kolaborator dengan teman sejawat. Subjek penelitian adalah dua orang anak tunagrahita sedang kelas dasar satu (D.1-C1) di SLB Negeri Pembina Pekanbaru.
Hasil penelitian yang dilaksanakan pada siklus I sudah terlihat peningkatan pada anak HM dan JK. HM dan JK sudah bisa memasukkan lengan kanan dan kiri pada lobang lengannya, memerlukan bimbingan dalam merapikan kerah, memasang kancing, dan menarik kedua ujung baju agar baju yang dipakai terlihat rapi. Secara umum keduanya sudah terlihat kemampuan memakai baju berkancing dengan metode latihan. Pada siklus II kemampuan anak semakin terlihat dengan terampilnya memakai baju berkancing. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan metode latihan dapat meningkatkan kemampuan anak tunagrahita sedang dalam memakai baju berkancing. Disarankan kepada sekolah untuk selalu menggunakan metode latihan dalam mengajarkan konsep mengurus diri sendiri pada anak khususnya memakai baju berkancing.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyandang tunagrahita merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang mempunyai kedudukan, hak, kewajiban dan peran yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya agar dapat berperan dan berintegrasi secara total sesuai dengan kemampuan di segala aspek kehidupan dan penghidupan. Untuk mewujudkan kesamaan, kesetaraan, kedudukan, hak, kewajiban dan peran penyandang tunagrahita diperlukan sarana dan upaya yang lebih memadai, terpadu dan berkesinambungan yang pada akhirnya akan menciptakan kemandirian dan kesejahteraan penyandang cacat pada umumnya.
Dalam rangka mencapai target fungsional pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang tunagrahita diperlukan bimbingan rehabilitasi secara simultan dan komprehensif yang mencakup aspek fisik, mental, sosial dan vokasional. Agar anak tunagrahita memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang disesuaikan dengan derajat kecacatan. Anak tunagrahita sebagaimana anak pada umumnya memiliki hak dan kebutuhan untuk berkembang atau mengaktualisasikan potensinya sehingga dapat hidup mandiri. Namun pada pemenuhan hal-hal tersebut di atas mengalami hambatan karena keterbatasan fungsi kecerdasan intelektual yang berada di bawah usia kronologisnya secara signifikan. Oleh karena itu anak tunagrahita akan memperlihatkan aktualisasi fungsi intelektual dan kemampuan dalam prilaku adaptif di bawah usianya.
Disadari sepenuhnya bahwa penyandang tunagrahita mempunyai karakteristik tersendiri serta permasalahan yang unik dan kompleks. Kondisi ini sangat mempengaruhi strategi pendekatan pemberdayaan yang spesifik. Sebagai akibatnya anak tunagrahita mempunyai permasalahan dan kebutuhan yang tentu saja memerlukan layanan khusus agar dapat berkembang optimal sehingga pada akhirnya dapat hidup layak di tengah masyarakat.
Permasalahan yang dihadapi anak tunagrahita adalah sulit memahami hal-hal yang abstrak, miskin pengalaman, miskin konsentrasi, cepat lupa, kurang inisiatif dan lain sebagainya. Bagi anak tidak tunagrahita persoalan menolong diri sendiri dapat dipelajari melalui instingtif, sedangkan bagi anak tunagrahita persoalan menolong diri sendiri harus terprogram secara rinci. Bagi penyandang tunagrahita, penguasaan keterampilan kehidupan sehari-hari yang bersifat dasar baik yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sendiri maupun dengan lingkungan sosialnya sangat berpengaruh pada keseluruhan proses pelayanan dan rehabilitasi sosial. Oleh karena itu maka bimbingan keterampilan kehidupan sehari-hari menjadi kebutuhan dasar dalam proses pelayanan dan rehabilitasi sosial. Upaya pelayanan dan rehabilitasi sosial tersebut diarahkan agar penyandang tunagrahita mampu melaksanakan fungsi sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat.
Program menolong diri sendiri memiliki peran sentral dalam mengantarkan peserta didik dalam melakukan kegiatan untuk dirinya sendiri. Melalui pembelajaran menolong diri sendiri diarahkan untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari sehingga untuk kebutuhan dirinya sendiri sehingga mereka tidak membebani orang lain. Salah satu kompetensi dalam kurikulum pembelajaran adalah anak dapat memasang baju berkancing sendiri. Memasang baju berkancing kedengarannya sangat sederhana tapi bila diaplikasikan pada anak tungrahita, kemungkinan sebagian besar dari mereka tidak bisa melakukan sendiri tanpa diajarkan dan dilatih terlebih dahulu. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah kurangnya pemahaman orang tua dan masyarakat tentang keberadaan anak tunagrahita sedang. Orang tua banyak menganggap ketidakmampuan anak untuk melakukan sesuatu sehingga banyak anak tunagrahita sedang terlalu dimanjakan. Akibatnya banyak anak tunagrahita sedang tidak mengoptimalkan potensinya. Kondisi ini akan mengakibatkan ketidakberdayaan. Anggapan masyarakat bahwa anak tungahita tidak mampu berbuat terhadap tuntutan hidup layaknya anak normal sehingga anak diisolir dan disisihkan dari kehidupan biasa.
Belum selarasnya antara kebutuhan penyelenggaraan latihan menolong diri sendiri dengan kondisi sekolah sehingga program kegiatan menolong diri sendiri belum diimplementasikan dengan baik. Sekalipun secara teori dan cara pelaksanaannya telah dipahami oleh pelaksana pendidikan anak tunagrahita sedang secara rinci, namun program kegiatan menolong diri sendiri belum menunjukkan kemajuan berarti dalam keberhasilan anak tunagrahita sedang. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kedua anak tunagrahita sedang yang berusia 8 tahun belum mampu memakai baju berkancing sendiri. Menurut pengakuan orang tua anak, dalam memakai baju anak masih dibantu oleh ibunya. Kedua anak tunagrahita sedang memang terlihat rapi tapi semua itu bukan dilakukan oleh anak melainkan atas bantuan orang lain. Ini terbukti ketika guru menyuruh anak untuk mencobakan memakai baju berkancing sendiri ternyata anak tidak bisa, atas dasar inilah peneliti ingin meningkatkan kemampuan anak dalam menolong diri sendiri khususnya memakai baju berkancing.
Dalam pembelajaran guru sudah mengajarkan dengan berbagai alternatif diantaranya; secara langsung menyuruh anak ke depan untuk membuka kancing bajunya sendiri dan memakai kembali. Cara seperti ini kurang membuahkan hasil karena anak malu membuka kancing baju di depan teman. Cara lain yang juga pernah dilakukan guru adalah dengan menyuruh anak untuk membawa baju sendiri, namun kendalanya anak tidak menyampaikan pesan guru ke orang tua. Melihat kenyataan di lapangan inilah, peneliti melihat program kegiatan menolong diri sendiri belum dapat diajarkan secara optimal. Materi ajar menolong diri sendiri sudah diajarkan namun tidak disertai sarana penunjang belajar. Yang seharusnya dilakukan guru adalah ketika mengajar guru harus menggunakan metode mengajar yang tepat karena akan memudahkan pemahaman anak. Dengan menggunakan media belajar anak secara langsung memperagakan apa yang capai materi ajar.
Salah satu metode mengajar yang dianggap sangat tepat dan cocok untuk mengajarkan materi menolong diri sendiri pada aspek memakai baju berkancing adalah metode latihan (drill). Metode latihan (drill) merupakan metode mengajarkan anak untuk memudahkan pemahaman anak terhadap kedalaman materi ajar. Dalam membelajarkan materi harus diawali dari yang mudah, sedikit sulit, hingga ke yang benar-benar sulit. Melalui tahapan-tahapan belajar ini akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Pembelajaran ini tidak akan dapat diserap anak dengan satu kali penyampaian, mengingat kemampuan intelektual anak sangat terbatas.
Mengingat pentingnya proses pembelajaran yang berulang-ulang dalam melatih kemampuan anak memakai baju berkancing, maka peneliti ingin melakukan secara intensif kepada anak tunagrahita sedang. Peneliti ingin membuktikan bahwa melalui metode latihan (drill) maka kemampuan anak memakai baju berkancing secara mandiri dapat meningkat. Karena peneliti ingin menjadikannya sebagai satu karya ilmiah, maka peneliti ingin membahasnya secara detail. Judul yang peneliti ambil adalah “Peningkatan Kemampuan Memakai Baju Berkancing melalui Metode Latihan (Drill) pada Anak Tunagrahita Sedang Kelas D.I Di SLB Negeri Pembina Pekanbaru.”
B. Fokus Penelitian
Mengacu pada penjabaran latar belakang di atas, maka diperoleh fokus penelitian yaitu melalui pelaksanaan pembelajaran menolong diri sendiri melalui metode latihan (drill) dari siklus ke siklus diperoleh peningkatan anak tunagrahita sedang dalam memakai baju berkancing.
C. Rumusan Masalah
Pada uraian sebelumnya maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran memakai baju berkancing melalui metode latihan (drill) pada anak tunagrahita sedang kelas D.I di SLB Negeri Pembina Pekanbaru ?
2. Apakah pembelajaran melalui metode latihan (drill) dapat meningkatkan kemampuan anak tunagrahita sedang dalam pembelajaran memakai baju berkancing?
3. Apakah pembelajaran memakai baju berkancing melalui metode latihan (drill) dapat diterapkan di kelas D.I di SLB Negeri Pembina Pekanbaru?
E. Tujuan Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini mempunyai tujuan yaitu:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran memakai baju berkancing melalui metode latihan (drill) pada anak tunagrahita sedang kelas D.I di SLB Negeri Pembina Pekanbaru.
2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan anak tunagrahita sedang dalam
memakai baju berkancing melalui metode latihan (drill).
3. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran melalui metode latihan (drill) dalam kemampuan memakai baju berkancing.
E. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian diharapkan bermanfaat untuk berbagai pihak, diantaranya:
1. bagi orang tua, agar orang tua lebih memberi kesempatan pada anak untuk mandiri, tidak memanjakan, dan tidak memenuhi semua tuntutan anak sehingga pada akhirnya anak dapat hidup secara wajar dan mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
2. Bagi guru, agar para guru lebih praktis, simpel, sederhana dan jelas dalam melayani anak tunagrahita pada aspek bina dirinya, sehingga pelayanan bina diri dapat menjadikan kecakapan dalam mengurus diri sendiri.
3. Bagi sekolah, agar standar kompetensi dasar yang dituangkan dalam standar ketuntasan belajar minimum sekolah dapat tercapai dengan baik dan perlu pengoptimalan semua komponen yang terkait pada pencapaian tujuan mata pelajaran bina diri.
4. Untuk pihak yang berhubungan dengan penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Lembaga-lembaga penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus diharapkan lebih memperhatikan peningkatan pelayanannya sehingga potensi dan kemampuan anak dapat dikembangkan dengan optimal yang mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.






BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Hakekat Menolong Diri Sendiri
1. Pengertian menolong diri sendiri
Dalam pembahasan mengenai menolong diri sendiri terdapat beberapa istilah yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Istilah-istilah tersebut antara lain activities of daily living yang disingkat ADL, mengurus diri atau merawat diri (self care), dan menolong diri (self help). Materi ketiga-tiganya tersebut sama atau hampir sama yaitu pelajaran yang menyangkut kegiatan jasmaniah yang dilakukan sehari-hari secara rutin.
Suhaeri (1992:18) menjelaskan bahwa istilah ADL digunakan berkaitan dengan latihan gerak untuk kegiatan sehari-hari untuk anak tunadaksa. Istilah mengurus diri atau merawat diri digunakan untuk kontek pembelajaran anak tunagrahita berat. Sedangkan istilah menolong diri digunakan dalam kontek pembelajaran anak tunagrahita ringan dan sedang.
Pada dasarnya materi ketiga-tiganya sama atau hampir sama, perbedaannya hanya pada penekanannya yang dilihat pada tujuan akhir yang ingin dicapai yaitu agar anak dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Mengingat konteks pembahasan penelitian ini tentang anak tunagrahita sedang maka akan lebih tepat disebut dengan istilah menolong diri sendiri.


2. Tujuan pembelajaran menolong diri sendiri
Pembelajaran menolong diri sendiri sebenarnya mengaktualkan kemampuan dalam kegiatan sehari-hari. Tujuan menolong diri sendiri diberikan kepada anak tunagrahita agar dapat:
a. Dapat hidup secara wajar dan mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah kehidupan keluarga.
b. Menyesuaikan diri dalam pergaulan dengan teman sebaya, baik di sekolah maupun di masyarakat.
c. Menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.
d. Mengurus keperluan dirinya sendiri dan dapat memecahkan masalah sederhana.
e. Membantu orang tua dalam mengurus rumah tangga, baik dalam kebersihan, ketertiban dan pemeliharaan dalam rumah tangga.
3. Pendekatan dalam pembelajaran menolong diri sendiri.
Pendekatan yang diterapkan dalam pembelajaran menolong diri sendiri bersifat perbaikan tingkah laku. Suhaeri (1992:23) menjelaskan lebih detilnya tentang pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menolong diri sendiri antara lain:
a. Pendekatan baselin yaitu melihat kemampuan yang dimiliki anak sebelum mendapat perlakuan dari latihan menolong diri sendiri. Kemampuan ini untuk melihat ada tidaknya perubahan setelah mendapatkan perlakuan.
b. Kriteria yaitu menetapkan sejumlah trial (betul) yang harus dicapai dalam satu pertemuan. Pembelajaran dilakukan dalam beberapa pertemuan. Pada setiap dibagi atas trial (betul) dan error (salah).
c. Reinforcement yaitu perangsang yang diberikan guru kepada anak segera setelah anak itu melakukan suatu perbuatan yang dikehendaki oleh guru agar anak terdorong melakukan perbuatan lagi.
4. Prinsip pembelajaran menolong diri sendiri.
Masih menurut Suhaeri (1992:26) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran menolong diri sendiri antara lain:
a. Pembelajaran menolong diri sendiri dilaksanakan ketika kebutuhan muncul. Misalnya berikan pembelajaran ketika anak mau memakai baju.
b. Bahan yang diajarkan hendaknya dirumuskan secara operasional. Misalnya “anak belajar memakai baju” maka harus dispesifikasikan menjadi “anak belajar memakai baju berkancing”.
c. Bahan yang baru hendaknya bersambung dengan bahan sebelumnya. Misalnya belajar mengancingkan baju merupakan kelanjutan dari anak belajar mengenakan baju.
d. Satuan-satuan bahan yang terkecil hendaknya terdiri atas perbuatan-perbuatan. Misalnya mengancingkan, menanggalkan, memasang, dsb.
e. Gunakan bahasa yang sederhana, berikan instruksi satu demi satu, bila perlu dilengkapi dengan mimik dan isyarat.

B. Metode dalam Mengajar
1. Kedudukan metode dalam proses belajar mengajar.
Dalam pola pendidikan modern, siswa dipandang sebagai titik pusat terjadinya proses belajar. Murid sebagai subjek yang berkembang melalui pengalaman belajar sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator belajarnya murid. Dengan menjalankan peranannya masing-masing inilah tercipta interaksi aktif. Imansjah (1984:71) mengemukakan agar proses belajar mengajar membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan maka baik guru atau murid perlu memiliki sikap, kemampuan dan keterampilan yang mendukung untuk pencapaian tujuan semaksimal mungkin.
Perpaduan kedua kegiatan ini (belajar pada murid dan mengajar pada guru) dapat direalisasikan dalam jenis metode. Sebagai seorang guru, sudah seharusnya menyadari tentang perlunya penguasaan berbagai metode yang dapat digunakan dalam kelas untuk mencapai tujuan pengajaran. Bila seorang guru yang miskin penguasaan metode atau teknik mengajar, maka ia akan berusaha mencapai tujuan dengan cara yang tidak wajar. Ini berarti akan merugikan dirinya dan juga murid. Sebaliknya bila seorang guru kaya dengan penguasaan metode dan teknik mengajar akan berdampak pada bertambah besarnya minat belajar siswa dan akan mempertinggi hasil pelajaran mereka.


2. Dasar Terbentuknya Metode Mengajar
Metode mengajar ini banyak sekali jenisnya ini disebabkan beberapa faktor. Imansjah (1984:72) mengemukakan faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Tujuan yang berbeda pada setiap mata pelajaran sesuai dengan jenis, fungsi maupun isi mata pelajaran masing-masing.
b. Perbedaan latar belakang individual anak, baik dari segi kehidupan/ keturunan, tingkat usia perkembangan/kematangan maupun tingkat kemampuan berpikirnya.
c. Perbedaan situasi dan kondisi dimana pendidikan berlangsung, baik berupa lembaga pendidikan (sekolah) yang berbeda letak geografis maupun sosial kultural.
d. Perbedaan pribadi dan kemampuan guru masing-masing.
e. Fasilitas yang berbeda baik kualitas maupun kuantitas.
Mengacu pada paparan di atas, adalah sulit memberikan klarisifikasi yang jelas tentang nilai dan efektivitas metode-metode yang pernah dikenal dalam pembelajaran. Metode yang dianggap kurang baik bagi seorang guru dapat menjadi metode yang baik bagi guru lain.
3. Pengertian Metode Mengajar
Secara harfiah metode berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata mengajar sendiri berarti memberi pelajaran. Menurut Pupuh (2007:55) menjelaskan bahwa metode mengajar adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Ahmad (2007:49) menjelaskan bahwa metode mengajar adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok.
Berdasarkan kedua pendapat di atas, pada dasarnya mempuyai kesamaan pengertian yaitu metode mengajar adalah cara sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4. Jenis-Jenis Metode Mengajar
Masih menurut Imansjah (1984:75) mengemukakan bahwa jenis-jenis metode mengajar antara lain:
a. Metode ceramah.
b. Metode Tanya jawab.
c. Metode diskusi.
d. Metode demonstrasi dan eksprimen.
e. Metode pemberian tugas belajar.
f. Metode kerja kelompok.
g. Metode sosiodrama dan bermain peran.
h. Metode karya wisata.
i. Metode latihan (drill).
j. Metode system regu (team-teaching)
k. Metode pemecahan masalah (problem solving).
l. Metode proyek (unit).
5. Ciri-ciri umum metode yang baik
Omar dalam Pupuh (2007:56) mengatakan terdapat beberapa ciri dari sebuah metode yang baik, yaitu:
a. Berpadunya metode dari segi tujuan dan alat.
b. Bersifat luwes, fleksibel dan memiliki daya sesuai dengan watak siswa dan materi.
c. Bersifat fungsional dalam menyatukan teori dengan praktek dan mengantarkan siswa pada kemampuan praktis.
d. Tidak mereduksi materi, bahkan sebaliknya justru mengembangkan materi.
e. Memberikan keleluasan pada siswa untuk menyatakan pendapatnya.
f. Mampu menempatkan guru dalam posisi yang tepat, terhormat dalam keseluruhan proses pembelajaran.
C. Metode Latihan (drill)
1. Pengertian Metode Latihan (drill)
Imansjah (1984:89) menerangkan bahwa metode latihan siap ialah cara mengajar yang dilakukan guru dengan jalan melatih ketangkasan atau keterampilan para murid terhadap bahan pelajaran yang telah diberikan. Biasanya metode ini digunakan dalam pelajaran yang bersifat motorik seperti baca-tulis dan keterampilan, dan pelajaran-pelajaran yang brsifat kecakapan mental dalam arti melatih kecepatan berpikir anak.
Landasan berpikirnya metode ini adalah mengulang-ulang pelajaran akan memperkuat tanggapan dan ingatan para murid. Dengan mengulangi apa saja yang sudah diajarkan bagi murid sebenarnya belum berarti proses belajar. Memang dahulu di sekolah-sekolah lama, mekanisme pelaksanaannya dalam berbagai mata pelajaran dan kecakapan sangat verbalisme di mana para murid hanya menerima kemudian menghafal tanpa pengertian sehingga mudah menimbulkan kebosanan belajar. Karena itu perlu dipahami dalam situasi bagaimana sebaiknya dilakukan latihan siap dan bagaimana caranya.
Dalam menggunakan metode latihan perlu adanya beberapa prinsip dan petunjuk penggunaan. Ahmad (2007:60) menjelaskan prinsip dan petunjuk menggunakan metode latihan siap yaitu:
a. Anak didik harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.
b. Latihan untuk pertama kali hendaknya bersifat diagnosis, mula-mula kurang berhasil, lalu diadakan perbaikan untuk kemudian bisa lebih disempurnakan.
c. Latihan tidak perlu lama asal terus menerus dilaksanakan.
d. Harus disesuaikan dengan taraf kemampuan ank didik.
e. Proses latihan hendaknya mendahulukan hal-hal yang esensial dan berguna.
Metode latihan (drill) tepat digunakan apabila dimaksud untuk melatih-ulang pelajaran yang telah diberikan atau yang sedang berlangsung, baik yang berbentuk kecakapan motorik, kecakapan mental. Di samping itu metode ini berguna untuk memperkuat daya ingatan dan tanggapan anak terhadap pelajaran.
2. Kelebihan dan Kelemahan Metode Latihan (Drill)
a. Kelebihan metode latihan (drill).
Menurut Imansjah (1984:100) menerangkan bahwa metode latihan (drill) mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya:
1) Dengan metode ini dalam waktu yang relatif singkat anak-anak segera memperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan.
2) Para anak didik memiliki sejumlah besar pengetahuan siap.
3) Para anak didik terlatih belajar secara rutin dan disiplin.
b. Kelemahan metode latihan (drill).
Masih Menurut Imansjah (1984:100) menerangkan bahwa metode latihan (drill) mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya:
1) Menghambat bakat, minat, perkembangan dan daya inisiatif anak.
2) Penyesuaian anak terhadap lingkungan menjadi statis.
3) Membentuk belajar anak secara mekanis, otomatis dan lugas/kaku.
4) Membentuk pengetahuan verbalistis dan rutin.
c. Langkah persiapan metode latihan siap yang efektif.
Agar pelaksanaan metode latihan (drill) efektif digunakan perlu beberapa persiapan diantaranya:
1) Hendaklah dipertimbangkan terlebih dahulu tepat atau tidaknya metode ini diterapkan, kemudian rumuska tujuan khusus yang ingin dicapai.
2) Metode ini hanya dipakai untuk bahan pelajaran/kecekatan yang bersifat rutin dan otomatis.
3) Masa latihan hendaknya diusahakan sesingkat mungkin sehingga tidak meresahkan dan membosankan anak didik.
4) Latihan harus mempunyai arti dan tujuan yang luas. Karena itu sebelum latihan dimulai hendaknya:
• Para anak didik diberikan pengertian tentang arti latihan itu.
• Para anak didik diberikan kesadaran bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan mereka di kemudian hari.
• Para anak didik diarahkan pada kesatuan sikap bahwa latihan itu diperlukan sebagai kelengkapan belajar.
5) Proses latihan hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga benar-benar bersifat menarik dan dapat menimbulkan motivasi belajar.
D. Hakekat Anak Tunagrahita
1. Pengertian Anak Tunagrahita
Tunagrahita merupakan anak yang secara nyata mengalami hambatan dan perkembangan mental di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas akademik, komunikasi maupun sosial. Oleh karena itu memerlukan layanan pendidikan khusus. Sutjihati (2006:104) menyatakan tunagrahita adalah kelainan yang ditandai dengan adanya keterbatasan yang signifikan dalam aspek fungsi intelektual dan prilaku adaptif yang diekspresikan dalam bentuk konseptual, sosial, dan keterampilan adaptif. Sedangkan Kauffman dan Hallahan dalam Sutjihati (2006:104) menjelaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang menunjukkan fungsi intelek di bawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian prilaku dan terjadi pada masa perkembangan.
Dari kedua pendapat di atas mempunyai kesamaan pandangan bahwa yang dimaksud anak tunagrahita adalah di mana kondisi perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal.
2. Klasifikasi Anak Tunagrahita
Menurut. Amin (1995:21) anak tunagrahita dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu
a. Anak tunagrahita ringan
Anak tunagrahita ringan disebut juga dengan anak debil atau anak mampu didik dengan intelegensi berkisar 50 – 70. mereka yang termasuk dalam kelompok ini meskipun kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.


b. Anak tunagrahita sedang
Anak tunagrahita sedang disebut juga dengan anak imbesil atau anak mampu latih dengan intelegensi berkisar 31 – 49. mereka yang termasuk dalam kelompok ini hanya bisa mencapai kematangan intelegensi sampai kurang anak uisa 7 tahun. Mereka dapat dilati mengurus diri sendiri. Mereka masih bisa bekerja di tempat yang terlindung namun harus diawasi terus menerus.
c. Anak tunagrahita berat
Anak tunagrahita berat disebut anak idiot atau anak mampu rawat dengan intelegensi kurang dari 30. anak yang tergolong dalam kelompok ini pada umumnya hampir tidak memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri, sosialisasi dan bekerja. Sepanjang hidupnya mereka akan selalu tergantung pada bantuan dan perawatan orang lain. Subjek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah anak tunagrahita sedang.
3. Pengertian Anak Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang merupakan salah satu klasifikasi dari anak tunagrahita, di mana mereka memiliki kemampuan di bawah anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang ini disebut dengan istilah imbesil atau anak mampu latih. Dikatakan anak mampu latih karena anak tunagrahita sedang hanya mampu untuk diberikan latihan-latihan yang bersifat fungsional atau bermanfaat dalam kehidupannya. Anak tunagrahita sedang mempunyai kemampuan di bawah kemampuan anak tunagrahita ringan dan di atas kemampuan anak tunagrahita berat.
Sutjihati (2006:105) menyatakan bahwa anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun mereka dapat menulis secara sosial misalnya menuliskan namanya sendiri dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Mereka juga masih dapat bekerja di tempat terlindung menurut American Association of Mental Deficiency (AAMD) dalam. Amin (1995:16) mengungkapkan anak tunagrahita sedang adalah mereka yang dapat belajar keterampilan sekolah untuk tujuan fungsional untuk mencapai suatu tingkat tanggung jawab sosial dan mencapai penyesuaian sebagai pekerja dengan bantuan dan dapat belajar keterampilan dapat belajar keterampilan dasar akademik (membaca tanda, berhitung sederhana). IQ nya bekisar antara 30 – 50, sehingga tingkat kemajuan dan perkembangan yang dapat dicapai bervariasi.
Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa anak tunagrahita sedang adalah mereka yang mempunyai adaptasi prilaku di bawah anak tunagrahita ringan yang masih mempunyai potensi untuk belajar memelihara diri dengan lingkungan dan dapat mempelajari beberapa pekerjaan sederhana yang mempunyai arti ekonomi. Selain itu anak tunagrahita sedang juga memiliki kemampuan atau potensi yang diberikan latihan-latihan sederhana yang bersifat kontiniu. Latihan-latihan ini berupa kegiatan yang bersifat fungsional dan bermanfaat dalam kehidupan anak.
4. Karakteristik anak tunagrahita sedang
Masih menurut Amin (1995:39) menjelaskan bahwa anak tunagrahita sedang mempunyai karakteritik-karakteristik sebagai berikut:
a. Perkembangan intelegensi
Anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Mereka pada umumnya belajar secara membeo. Anak tunagrahita sedang mengalami kesukaran berfikir abstrak seperti belajar berhitung, menulis dan membaca. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian. Selain itu mereka juga mengalami kesulitan dalam menilai secara kritis, mengatasi kesulitan-kesulitan, menghindari kesalahan-kesalahan dan kemampuan untuk merencanakan masa depan.
b. Perkembangan bahasa
Anak tunagrahita sedang menunjukkan perkembangan arti kata dan perkembangan perbendaharaan kata lebih lambat dari anak tunagrahita ringan. Sedikit menggunakan kata-kata positif, kata-kata yang lebih umum, hampir tidak pernah menggunakan kata ganti serta lebih sering menggunakan kata-kata bentuk tunggal.
c. Perkembangan sosial
Perkembangan sosial anak tunagrahita sedang dapat ditunjukkan pada tingkah laku sebagai berikut:
1) kesulitan mengurus diri sendiri dalam masyarakat.
2) tidak mampu berteman dengan baik kepada orang lain.
3) ketergantungan terhadap orang tua.
4) tidak bisa membedakan bahaya dan tidak bahaya.
5) tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi.
6) mereka juga mudah dipengaruhi.
7) cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
d. Perkembangan emosi
Perkembangan emosi pada anak tunagrahita sedang menunjukkan kurang memiliki kemampuan berpikir, keseimbangan pribadinya tidak konstan kadang-kadang stabil, dan kadang-kadang labil/kacau. Mereka dapat memperlihatkan kesedihan tetapi sukar untuk menggambarkan suasana terharu dan bisa mengekpresikan kegembiraan tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman. Mereka juga jarang sekali menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
5. Kebutuhan Anak Tunagrahita Sedang.
Pada dasarnya anak tunagrahita memiliki kebutuhan yang sama dengan anak tidak tunagrahita. Menurut W, Kontinsky F, & Gall dalam Amin (1995:117) menjelaskan bahwa kebutuhan anak tunagrahita sedang dapat dijabarkan dalam pernyataan sebagai berikut:
a. Perasaan terjamin kebutuhannya akan terpenuhi.
b. Perasaan berwewenang mengatur diri.
c. Perasaan dapat berbuat menurut prakarsa sendiri.
d. Perasaan puas telah melaksanakan tugas.
e. Perasaan bangga atas identitas diri.
f. Perasaan keakraban.
Diantara sekian banyak kebutuhan, kebutuhan anak tunagrahita sedang yang paling dominan adalah kebutuhan dapat berbuat menurut prakarsa sendiri. Kebutuhan dapat berbuat menurut prakarsa sendiri ini terangkum dalam berbagai kebutuhan yaitu diakui diakui prakarsanya, mempunyai daya jual, mempunyai daya saing, diberi kepercayaan dan tanggung jawab. Muara dari semua kebutuhan itu adalah ingin mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain sehingga dapat menjalani hidup dengan penuh bahagia. Untuk memenuhi kebutuhannya, anak tunagrahita sedang perlu mendapatkan perhatian secara khusus agar mereka memperoleh pemenuhan kebutuhan tersebut.
E. Defenisi Operasional Variabel
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan pemahaman makna penelitian maka perlu penjelasan defenisi operasional sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan memakai baju berkancing.
Meningkatkan kemampuan memakai baju berkancing dalam penelitian ini yaitu usaha untuk menambah/menaikkan keterampilan anak tunagrahita sedang dalam melakukan kegiatan sehari-hari yaitu memakai baju berkancing. Kegiatan sehari-hari ini harus bisa dilakukan anak tunagrahita sedang sendiri secara mandiri dan tidak membutuhkan bantuan orang lain.
2. Metode latihan siap (drill).
Metode latihan siap (drill) adalah kegiatan melakukan aktivitas yang dilaksanakan secara berulang-ulang. Latihan kegiatan ini dimaksud untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari.
3. Anak tunagrahita sedang.
Anak tunagrahita sedang adalah salah satu bagian dari anak tunagrahita yang kemampuan intelektualnya di bawah anak tunagrahita ringan dan di atas anak tunagrahita berat. Anak tunagrahita sedang dalam penelitian ini adalah anak yang mengalami kemunduran dalam aktivitas belajar khususnya belajar menolong diri sendiri pada aspek memakai baju berkancing.
F. Penelitian yang Relevan
Pelaksanaan penelitian ini tidak berdiri sendiri, melainkan ada beberapa penelitian yang relevan baik tujuan dan maksudnya. Penelitian yang relevan diantaranya:
1. Eko Suprapto (1996) tentang pembelajaran menolong diri sendiri. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan metode latihan siap (drill) dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan.
2. Tri Susanti (2002) tentang pengaruh metode demonstrasi. Hasil penelitian menyatakan penggunaan metode-metode mengajar yang sesuai dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan.
E. Kerangka Konseptual
Agar penjabaran dalam penelitian ini terarah, maka perlu dibuat kerangka konseptual yang dapat dilihat pada bagan di bawah ini

  1. PLB JAK Says:
  2. salam kenal dan terimakasih

     
  3. PLB JAK Says:
  4. salam kenal dan terima kasih

     
:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

PEMBACA YANG BAIK ADALAH PEMBACA YANG MAMPU MEMBERIKAN MASUKAN DAN KOMENTAR